Terhanyut Pesona Ibu Dosen Yang Cantik

Dulu aku termasuk tipe mahasiswa yang sedikit usil dan bendel di kampus. Semua teman-teman di kelasku pasti pernah merasakan menjadi korban keusilanku. Bukan teman-teman mahasiswa saja, ketika dosen sedang mengajar di depan kelaspun aku kadang suka nyeletuk dengan ucapan-ucapan yang membuat seisi kelas tertawa. Namun sifat usilku itu masih terbantu dengan nilai prestasiku di setiap mata kuliah. Sebagian teman-teman memang suka meminta bantuanku jika ada tugas atau mata kuliah yang kurang dimengerti oleh mereka. Itulah mengapa, di kampus tidak ada yang berani menegur atau bahkan marah ketika mereka menjadi korban keusilanku. Termasuk para dosen.

dosen kampus cantik, ibu dosen keren, kuliah di kampus, mahasiswa perguruan tinggi

Hari itu adalah jadwal kuliah pagi, dan aku masih setia di tempat tidur dengan badan yang masih ditutupi selimut. Rasanya malas untuk berangkat, karena saat itu kondisi cuaca di luar sedikit gerimis. Sampai akhirnya suara bising knalpot motor yang mengganggu membangunkan aktifitas tidurku waktu itu. Teman dekatku Deni, sudah berada di pintu kamar kostanku seraya berteriak: “Masih molor ni anak… Bro, bangun woyy..! Udah siang nih.. mo berangkat ke kampus gak lu?” Hmmm.. selalu saja dia yang pertama kali kulihat saat membuka mata. Kenapa sih ga sekali-kali cewek cantik gitu yang ada di depan pintu kostan kamar, ketusku dalam hati. “Iya iya Bro.. gue mau mandi nih skrg.. Rese amat si lu..” Akhirnya aku bergegas ke kamar mandi sambil menyambar handuk dan alat keperluan mandi lainnya, sementara Deni menunggu di kamarku sambil bermain Play Station. Deni memang selalu menyempatkan diri untuk menjemputku ketika akan berangkat ngampus. Soalnya kostanku setiap hari pasti terlewati oleh dia saat akan berangkat atau pulang ke rumahnya.

Setibanya di kampus, semua teman-teman masih asik dengan kegiatan mereka masing masing. Ada yang ngobrol, mainin gadget, yang lagi makan, yang sedang bersolekpun ada. Dasar cewek! masih aja asik dandan, mungkin make-upnya luntur gara-gara kehujanan. Hihi.. Timbul rasa ingin menjahili mereka. Namun niat itu ku urungkan karena seorang dosen menyuruh kami untuk segera masuk ke kelas, karena aktifitas kami di luar kelas mengganggu mahasiswa lain yang sedang belajar. Akhirnya kami semua masuk ke dalam kelas satu persatu. Kondisi di dalam kelas sangat kotor, jejak kaki sepatu akibat hujan menghiasi seluruh lantai di kelas. Hari ini adalah jadwal mata kuliah bahasa inggris. Sebenarnya aku kurang begitu menguasai bahasa inggris, tapi karena jurusan kuliahku Teknik Informatika, minimal semua mahasiswa wajib menguasai dasar-dasanya. Tak berapa lama, ada yang mengetuk pintu kelas dari luar: ‘Tok tok tok..’

Seorang wanita berkerudung masuk ke dalam kelas sambil tersenyum. “Haii… Good morning everybody…” Wuih cantik banget siapa nih? Dosen barukah?” Tanyaku pada teman yang duduk di sebelahku. Semua mahasiswa laki-lakipun cukup takjub melihat kecantikan Beliau. Usianya sekitar 30-an. Lanjut dia berkata: “Hmm.. perhaps you’re wondering who I am. Let me introduce myself, my name is Yanti Dwi Hartati. You can call me Mrs.Yanti. and now I’will be teaching you English this semester. You know.. I’m standing in for Mr. Kamal, ’cause he moved to teach in another faculty..” Wuihh dia memperkenalkan diri dengan bahasa inggris, apaan tuh artinya? tanyaku sambil tak lepas tatapanku dari wajahnya yang cantik itu.

Entah saat itu dia merasa benar-benar diperhatikan olehku atau bagaimana, tiba-tiba dia menoleh sambil menunjuk padaku yang sedang asik duduk di belakang. “You.. yes you… please stand up and introduce yourself.. what’s your name ..?” Aku yang saat itu sedang setengah melamun mendongak kaget…Haaah??? Aku?? Kenapa harus aku? Benar-benar gugup waktu itu. Semua teman sekelas menoleh padaku sambil tertawa cekikikan. Bu Yanti hanya tersenyum sambil bertolak pinggul. Aku berdiri pelan-pelan, grogi banget sebab aku emang gak terlalu mahir bahasa inggris.. Aku memang sedikit bisa bahasa inggris jika secara listening, reading dan writing, tapi kalo untuk speaking susah diungkapkan, bingung mau ngucapin apa. Dengan terbata-bata aku memperkenalkan diri “My name… is Beben.. Beben Sebastian Bu.. I Live on… Jalan.. Duh,, jalan bahasa inggrinya apa ya bro?” tanyaku pada Deni sambil menendang sepatunya.. Sontak semua teman sekelaspun tertawa terbahak-bahak. Begitupun Bu Yanti. Aduuuuuuh malu banget sumpah.. aku merasa kikuk waktu itu. Dihadapan Bu Guru cantik dan teman-teman sekelas, aku si tukang jahil malah ditertawain abis-abisan kayak gini. Baru kali ini ngerasain jadi korban ejekan. Dasar kutukupret, umpatku pelan.

Sejak kejadian itu, aku merasa malu jika bertemu dengan Bu Yanti. Di halaman kampuspun jika bertatap muka dengan Beliau, aku selalu memasang muka meringis malu. Tapi jujur, entah kenapa.. sejak pertama kali bertemu dengannya di kelas, aku benar benar terkesima oleh kecantikannya. Matanya ituloh, tajeeem banget. Seolah dia memberi kode sesuatu lewat tatapannya itu, seperti mata yang mengajak ‘ayo kemari ikut sama aku’ gitu. Hasrat laki-lakiku seolah menantangku untuk bisa mengenal lebih jauh tentang Beliau. Tak terpikir olehku dengan usia yang sekitar 30an itu apakah dia sudah bersuami atau mempunyai anak. Aku bertekad untuk mengenalnya lebih jauh.

Hari itu kembali jadwal mata kuliah Bu Yanti. Aku yang biasa dijemput oleh Deni, kali ini berangkat sendirian sebab Deni waktu itu sedang terbaring sakit. Aku berangkat kesiangan sebab kupikir Deni akan mampir dulu ke kostanku. Akhirnya hujan kembali menjadi sahabat karibku saat berangkat ke kampus. Akh sial aku benar-benar telat, semua mahasiwa sudah masuk ke kelasnya masing-masing. Akupun langsung berlari dan mencoba mengetuk pintu kelasku dengan ragu-ragu. Dan benar saja, pelajaran sudah di mulai. Saat itu Bu Yanti sedang duduk di mejanya sambil menoleh padaku yang basah kuyup kehujanan sekaligus kesiangan. “Hey, please, come in… ucapnya padaku.. Aku yang saat itu merasa bersalah dan gugup karena kesiangan kemudian meminta maaf pada Bu Yanti sambil mencium punggung tangannya layaknya tingkah seorang anak SD di sekolah. Ya ampun semua teman-teman di kelas ‘kembali menertawakan tingkahku’ itu.. ah sial lagi.. Ibu Yantipun tampak tersenyum sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Kenapa sih kalau ketemu Bu Yanti selalu begini terus? Akupun duduk di kursiku dengan wajah merah karena malu. Tukang jahil diketawain lagi, apes. Grogi campur takut jadinya kyk gini nih, sambil kucoret coret mejaku dengan balpoint karena kesal.

Singkatnya setelah mata kuliah Bu Yanti selesai, semua mahasiswa keluar kelas satu persatu karena matakuliah selanjutnya akan dimulai 1/2 jam lagi. Saat itu Bu Yanti yang sedang membereskan peralatan mengajarnya masih duduk sambil sekali-sekali mengecek handphone-nya. Setelah semua mahasiswa keluar kelas, aku memberanikan diri menyapanya, meminta maaf dengan kejadian yang tadi. Dia hanya tersenyum dan berkata bahwa kejadian itu tidak usah dipikirkan. Aku pikir tidak ada salahnya jika berbincang sebentar dengan beliau. Karena itu aku mengajaknya mengobrol lebih lama agar aku bisa lebih dekat dengannya. Membicarakan kegiatan sehari-hari. Sampai aku berani menanyakan tentang kehidupan pribadinya. Dan, ternyata Bu Yanti itu masih single! Wuih, aku masih ragu dengan pernyataannya, tapi mulai merasa yakin saat dia menawarkan padaku jika ingin bertemu dengan beliau di luar jam kuliah, aku bisa menemui beliau di rumahnya hari sabtu sore. Karena itulah hari sabtu sore aku sengaja berdan-dan rapi dan berniat berkunjung sendirian ke rumahnya.

Di depan sebuah rumah aku masih tertegun, meyakinkan diri apakah rumah yang aku lihat ini benar-benar rumah Bu Yanti seperti alamat yang tertera di secarik kertas ini?  Akupun mencoba memijit bebearapa nomor di hpku untuk menghubungi orang yang memberi alamat rumahnya itu. Tak lama setelah kutelpon dan kuberitahu bahwa aku sudah berada di depan rumahnya, munculah dari balik pintu seorang wanita yang memakai busana minim sekali. Seorang wanita yang memakai kaus ketat dan celana pendek membuka pagar rumahnya. Aku benar-benar tahu siapa dia saat melihat wajahnya, Bu Yanti?? Surprise banget ngeliat dia yang mengenakan pakaian seperti ini, karena yang aku tahu di kampus dia berbeda sekali dengan stelan pakaian yang dikenakannya saat ini. “Hay Beben, welcome to my home…” ucap dia sambil mempersilahkan aku untuk masuk. Aku bengong melihat gayanya yang seperti anak cabe-cabean jaman sekarang.

Aku melihat ke dalam rumahnya, melihat ke segala penjuru ruangan, dan dia benar-benar tinggal sendiran. Secangkir kopi dan cemilan kecil dia suguhkan padaku yang sedang duduk di sofa. Dia kemudian mengeluarkan sebungkus ro**kok dari sakunya kemudian menyulutnya sebatang. “Kamu mero**kok juga Ben? Jangan kaget ya hehe ..” Diapun menyodorkan ro**koknya padaku. Bu Yanti mero**kok?? Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jauh sekali Bu Yanti yang di kampus dan yang di rumah ini sekarang. Sekali lagi aku terkejut kaget. Karena akupun seorang per**okok, aku menerima tawarannya. Kemudian kami mengobrol panjang lebar di rumahnya karena Bu Yanti lama-kelamaan menjadi teman yang asyik juga untuk diajak share. Hingga sebuah klakson mobil kemudian berbunyi seperti mengisyaratkan seseorang untuk keluar menemuinya. Dan Bu Yanti yang saat itu sedang duduk di sofanya tiba-tiba beranjak, dan keluar untuk menemui mobil tersebut. Tampaknya mobil itu memang tamunya Bu Yanti, pikirku. Aku cuma duduk menunggu di dalam rumahnya.

Seorang laki-laki kemudian masuk bersama Bu Yanti, kemudian Bu Yanti memperkenalkan laki-laki itu. “Oya Ben kenalin ini manajer Ibu, dia sudah Ibu anggap sebagai kakak sekaligus temen curhat yang baik, hehe.. Dan Mas.. kenalin ini salah satu mahasiswa saya di kampus..” ucap Bu Yanti. Kamipun berjabat tangan. Aku takut. Takut kalau dia itu sebenarnya adalah suaminya. Tapi ternyata bukan. Bu Yanti pergi ke kamar sejenak katanya sih mau dan-dan, akhirnya cuma aku berdua dengan laki-laki itu di ruang tengah sambil mengobrol sejenak. Keliatan agak kaku jika didengar dari cara obrolannya, aku belum tahu dia itu sebenarnya manajer apanya Bu Yanti. Kupikir ada baiknya jika aku pulang saja sebab aku lihat seperti sudah ada janji menghadiri sebuah acara antara Bu Yanti dengan laki-laki itu.

Aku yang saat itu nyaris akan berpamitan untuk pulang malah sengaja dicegah Bu Yanti. “Udah Ben kamu ikut dengan kami aja.. Motor kamu masukin aja ke halaman rumah, kita naik mobil.. jalan-jalan” katanya seperti memelas menyuruh aku untuk ikut. Stelan baju Bu Yanti sekarang sudah diganti lagi dengan stelan rok mini dan baju ketat. Apalagi kali ini malah pakai make-up segala. Mau kemana mereka sebenarnya? Jadi penuh tanda tanya nih. Yah, tidak apa-apalah sekali-sekali ikut sama dosen cantik ini. Lagian aku pengen tahu mau kemana mereka berdua. Akupun terpaksa ikut dengan mereka, setelah memasukkan motorku ke halaman rumah Bu Yanti, aku duduk di belakang mobil, sedangkan Laki-laki itu duduk di depan dengan Bu Yanti sambil menyetir. Kamipun berangkat ke perkotaan.

Mobil tiba-tiba berhenti di sebuah tempat pelataran parkir. Saat itu ramai orang di sana karena sepertinya ada sebuah acara di tempat itu. Ya! acara seperti sebuah orkes. Seperti orkes dangdut. Karena disana ada sebuah panggung dan seorang penyanyi sedang berjoged diatasnya sambil di tabuhi alat musik dari band pengiringnya. Acara apa ini? Ngapain Bu Yanti datang ke tempat seperti ini? Saat itu aku berbaur dengan penonton yang ada disitu karena Bu Yanti dan laki-laki itu masuk ke sebuah ruangan dan dia menyuruh aku untuk menunggu saja di luar. Aku memesan secangkir kopi di sebuah warung di sana lalu menyalakan sebatang rok**ok sambil menunggu Bu Yanti.

Tak lama kemudian muncul sosok Bu Yanti di atas panggung itu, seraya mengajak para penonton untuk berjoged bersamanya. Pakaiannya yang sedikit ‘ho**t’ membuat beberapa penonton ikut naik ke atas panggung dan berjoged dengan Bu Yanti. Pemandangan apa yang aku lihat… Bu Yanti menyanyikan lagu dangdut yang aransemen musiknya seperti berada di klub-klub malam pada umumnya. Di saweri uang oleh penonton, bergaya seperti layaknya wanita malam. Aku baru paham saat melihat itu sekarang. Ya…. Bu Yanti dosen Bahasa Inggrisku… ternyata mempunyai profesi lain sebagai Penyanyi Dangdut Saweran. Sulit dipercaya, dia yang begitu memikat dengan keanggunannya, dengan pakaian hijabnya saat di kampus, seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang cukup tinggi harus berada di tempat seperti itu dan melakukan aksi tersebut.

Ini sebenarnya membuat aku kecewa. Di satu sisi aku menghormati dia karena dia adalah dosenku. Tapi di sisi lain, dia seperti tidak layak dihargai jika melihat apa yang dilakukannya malam itu. Tapi apapun yang setiap orang lakukan entah itu dengan profesinya ataupun kegiatan lainnya yang bersifat pribadi, aku tidak pernah ikut campur. Biarlah aku saja yang mengetahui ini sendiran. Akupun merasa tidak dirugikan dengan apa yang dia lakukan. Toh sampai detik inipun aku masih berkomunikasi dengan beliau, terlepas dari profesinya entah itu sebagai dosen ataupun penyanyi dangdut. Semua orang punya sisi gelap dan sisi terangnya masing-masing. Aku menghargai mereka dari pribadinya, bukan dari profesinya.

Penulis : Beben Sebastian
(Terverifikasi)

Address : Perum Rabbany Regency Blok I No 11, Karangpawitan, Garut, Jawa Barat

Facebook Beben Sebastian

Google+
+Beben Sebastian

Website : http://sarewelah.blogspot.com

Bagikan:
5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.