Silakan Atau Silahkan, Mana Yang Benar?

Saya sering melihat beberapa teman-teman blogger yang menggunakan ejaan yang salah dalam menulis artikel meskipun saya sendiri juga sering melakukan kesalahan-kesalahan eja karena keterbatasan kemampuan saya juga. Yang sering saya lihat adalah penggunaan kata silahkan. Itu salah menurut KBBI atau kamus besar bahasa indonesia.

silakan-apa-silahkan

Silahkan atau silakan, mana yang benar?

Yang benar adalah Silakan. Bukan Silahkan.

Silakan berasal dari kata dasar “sila”, bukan silah. Tidak ada kata silah dalam kamus bahasa indonesia. Sila di tambahi dengan akhiran kan maka menjadi silakan.

Contoh-contoh kata yang menggunakan kata dasar sila adalah:

Silakan

Silakanlah

Silalah

– Mempersilakan

– Dipersilakan

– Tersila

– Menyilakan (untuk kata yang satu ini, huruf “s” pada kata sila dihilangkan sehingga menjadi “menyilakan”)

READ  TEMPE ADALAH

Peringatan:

Jangan salah memahami dengan kata-kata anonim, misalnya “Bersila”. Kata dasar “sila” yang ada pada bersila ini merupakan sinonim atau padan kata dari kata dasar sila. Yaitu berbeda arti dengan kata dasar “sila” pada kata silakan.

KBBI menjelaskan seperti berikut ini:

sila 1/si·la / v, silakan/si·la·kan/ v sudilah kiranya (kata perintah yg halus): – duduk;

silakanlah/si·la·kan·lah/ v silakan;

silalah/si·la·lah/ v silakan;

menyilakan/me·nyi·la·kan/ v minta (menyuruh, mengajak, mengundang) dng hormat supaya: tuan rumah – tamu-tamu masuk;

tersila/ter·si·la/ v terserah; pulang maklum kpd: – kepadamulah, mau pergi atau tidak;

mempersilakan/mem·per·si·la·kan/ v minta secara lebih hormat supaya

Hal ini mengingatkan saya ketika masih duduk di kelas 1 SMP yang mana guru bahasa indonesia saya, Bapak Tugiono, menjelaskan bahwa yang benar adalah silakan, bukan silahkan. Setelah menjadi blogger, saya sering mendapat koreksi dan saran dari teman-teman blogger, salah satunya adalah mas Wahid Priyono yang selalu mengamati semua ejaan yang saya tulis.

READ  HERBIVORA ADALAH

Untuk artikel bahasa inggris, teman-teman yang sering mengoreksi kesalahan saya adalah mas Anton Ardyanto, mas Juan Feju, mak Komarudin Tasdik, mas Gee Jhon, mas Hendri, mbak Nanik Astutik, dan banyak lagi teman-teman lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Dan saya sangat berterimakasih kepada beliau semuanya.

Barusan saya diingatkan lagi oleh mas Wahid Priyono tentang penulisan “Resiko”. Yang benar adalah Risiko, bukan Resiko.

Bagaimana dengan tulisan anda saat ini, menggunakan silakan atau silahkan? Anda menulis resiko atau risiko? Marilah kita memulai memperbaiki tulisan kita dengan ejaan yang benar sesuai EYD.

Semoga bermanfaat. Jangan lupa baca juga Asyiknya Mengelola Blog Yang Masih Baru Saja Dibuat.

Gambar Gravatar
Saya hanyalah seorang blogger biasa yang ingin berbagi pengalaman kepada pembaca melalui blog ini. Ilmu yang bermanfaat harus disampaikan kepada orang lain sebelum kita kembali padaNya. Indri Lidiawati

37 komentar

  1. kalau silah berarti teknik duduk mbak.

    Mau tanya kalau nulis dia “D” nya besara atau tidak.

    1. tergantung letak, kalau di awal kalimat ya besar, selain itu kecil 😀

      1. Kalau untuk nama tuhan dimanapun harus tetap besar huruf D nya.

        1. untuk nama orang dimanapun juga harus besar D nya 😀

  2. Hehe, iya mbak saya juga kadang masih terus belajar kok soal EYD, sebab ini adalah hal dasar dalam menulis. Kadang misalnya, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi banyak yang memiliki kemampuan menulis rendah dan dosen terkadang menyoret beberapa kata yang tidak sesuai EYD dan KBBI. Padahal kesalahannya sangat sepele, seperti penulisan kata “resiko” yang seharusnya sesuai EYD ditulis “risiko”. PENGALAMAN: Pernah saya menjadi asisten dosen dan mengawasi kegiatan selama proses kuliah bagi mahasiswa di kampus saya di Lampung, dan ketika melihat tulisan di laporan mahasiswa banyak yang menggunakan EYD kurang tepat dan saya tak segan-segan untuk mengingatkan bahkan EYD itu menjadi point penting saya ketika harus mengoreksi laporan/makalah yang begitu banyak. Saya teliti tulisan masing-masing Individu/mahasiswa sebelum saya beri penilaian…dan banyak mahasiswa yang mempertanyakan atas apa-apa yang saya “coret” di atas laporan yang mereka buat, itu saya lakukan atas bentuk idealisme serta kepedulian saya kepada mahasiswa. Karena kalau kesalahan itu dibiarkan, maka bisa jadi kita yang tahu akan berdosa, maka saling mengingatkan dalam kebaikan itu penting walau nasihat itu hanya sedikit. Oh iya, termasuk Kalo saya juga ada kekurangan dalam penulisan kata-kata postingan di blog saya, tolong bantu koreksi dan ingatkan saya. 😀 . Terimakasih.

    1. makasih banyak pencerahan dan sharing pengalamannya mas wahid 😀

  3. Seperti difikirkan seharusnya dipikirkan. Saya pribadi malah kadang kalik ngetik kecepeten malah jadi kebalik misal nulis “lain” jadinya “lian” 😀 Tapi kalau dilihat dari sisi adsense, dengan memperbaiki ejaan, apakah juga ada pengaruhnya untuk optimasi adsense kita mbak indri?

    1. tentunya ada pengaruh karena ejaannya tidak sesuai keyword yg digunakan oleh iklan google 😀

      1. Tapi kalau terlalu baku, kesannya malah jadi kaya kaku, ya ga mbak?

        1. ada bahasa gaul dan bahasa formal 😀

  4. itu “kalau” kok bisa jadi “kalik” ya 😀

  5. Wah saya mah banyak salahnya mbak, tapi mengapa banyak yang silahkan?. Apa karena sudah mendarah daging ya?. Saya aja baru tahu ini lho hihi.

    1. karena masyarakat luas sudah terbiasa dengan ucapan “silahkan” 😀

      1. Jadi menurut mbak Indri sebaiknya kita mulai saat ini sebaiknya pakai silahkan atau silakan nih? Hehe.

  6. Wow, saya baru nyadar Mbak. Ternyata banyak tulisan saya yg salah eja, pasti saya oprek dan perbaiki lagi.. Thanks postingnya Mbak Indri ^.^

    Saya paling suka lho mbak sama artikel yang begini, terkadang kita hanya berpedoman pada “sesuatu” yang sudah populer dan terdepan, tanpa memikirkan EYD / KBBI yang lebih bijaksana..

    Mohon di perbanyak lagi pedoman menulis di blog seperti ini Mbak, mari kita belajar lagi ..;)

    1. makasih mas Eva, saya juga masih belajar dan insyaAllah akan terus berbagi apapun yg bermanfaat 🙂

  7. Hayo bagaimana cara penulisan kata2 berikut ini sesuai EYD dan KBBI?
    1. Falsafah atau palsafah?
    2. Azas atau asas?
    3. Apotik atau apotek?
    4. Ijasah atau ijazah?
    5. Fikir atau pikir?
    6. Asas atau azas?
    7. aktifitas atau aktivitas?
    8. Ampere atau amper?
    9. Pilosifi atau filosofi?
    10. Batere atau baterai?
    11. Random/randem?
    12. referensi atau reperensi?
    13. hehe… 😀 kadang harus dihapal juga…

    1. itu sih gampang, ada perbedaan bahasa inggris dan bahasa indonesia serta bahasa jawa/sunda hehe 😀

  8. Termasuk dalam penulisan EYD sesuai KBBI untuk kata yang diberi imbuhan -ke dan -di yang menyatakan tempat/lokasi suatu wilayah tertentu, maka untuk penulisan imbuhan -di atau -ke dipisahkan dari “noun”. Misalnya: Mbak Indri sedang pergi ke pasar, atau mbak Indri dan Wahid sedang asyik di depan komputer untuk sekedar menulis artikel postingan…. 😀 Nah, sebenarnya penetahuan tentang penambahan imbuhan (awalan/akhiran) sangat penting bagi seorang penulis. Dan saya juga masih terus berlatih sampai saat ini…

  9. wah, ternyta saya selama ini salah mbak, saya kira silahkan,rupanya silakan ya 😀

  10. Tambahan: Untuk Konsep dasar penulisan kalimat sesuai EYD dan KBBI tentunya banyak menggunakan/melibatkan imbuhan di- atau -ke di depan kata benda (noun) yang tentunya ini banyak terlibat dalam penulisan artikel yang diposting. Oleh karena itu, perlu berhati-hati dalam menulis artikel. Karena banyak mata-mata, apalagi kalau ada master “bahasa Indonesia” hehe 😀

  11. Artikelnya mantap banget mbak Juragan, he he. Nah ini yang kutunggu sejak awal saya berkunjung di website ini, ya jika seorang Blogger kawakan seperti mba Indri sudah mulai membahas tentang EYD, insya Allah ke depan Blogger Indonesia akan semakin OK. Aaamiin

    Mbak Juragan dan teman-teman, ilmu memang sangat luas dan dalam, oleh karena itu kita sebagai Blogger harus terus meningkatkan kwalitas artikel dengan cara selalu rajin belajar tentang apa pun yang terkait dengan dunia ngeblog, setuju?

    Adanya kita berjalan bersama, semoga akan memperkecil tingkat kesalahan kita ( dalam hal ini tentang cara penulisan yang benar sesuai kaidah yang berlaku). Adanya kita belajar bersama, semoga pengetahuan kita akan semakin luas dan dalam.

    Adanya kita bersama juga, akan terjadi saling melengkapi, karena kita sadar bahwa tidak ada satu pun seseorang yang sempurna dari orang lain kecuali jika seseoang tersebut memang dalam bidang keahliannya.

    Sebagai contoh, sebelumnya saya tidak tahu bahwa kata yang benar ternyata “silakan” bukan “silahkan”, nah dengan perantara saya membaca artikelnya mbak Juragan, saya sekarang menjadi paham.

    Begitu juga jika saya mengunjungi blog teman-teman, saya sering mendapatkan ilmu baru bagiku walaupun sebenarnya itu ilmu yang sudah ada sejak dulu.

    Ya begitulah ilmu, karena begitu luas dan dalamnya sehingga kita wajib selalu mencarinya ( kapan pun, di mana pun, kepada siapa pun ). Semoga kita semua menjadi blogger/orang yang bahagia dalam proses mencari ataupun setelah memperoleh kesuksesan.

  12. wah berarti selama ini saya termasuk keliru untuk menuliskan silahkan dan resiko…..terima kasih atas pemaparannya Mbak

  13. Saya juga baru ngerti ternyata selama ini saya salah tulis untuk kata silahkan yang benar itu silakan.

  14. Iya nih mbak sempet bingung antara silahkan dan silakan, soalnya nggak sesuai EYD keliatan kurang profesional gitu hehehe

  15. ternyata perdaannya cukup signifikan ya mbak, saya baru menyadarinya sekarang.

    satu kata yang begitu kontroversial lainnya tapi tidak begitu diperdulikan adalah, pemakaian kata “perempuan” dan “wanita”, yang benar yang mana ya mbak ?

  16. Ini bgus, agar yg belum tahu jadi tahu. salam. mba indri

  17. jadi yang benar silakan? selama ini saya salah juga
    kalau apotik dengan apotek sih saya tau yang benar apotek

    yang ada kan apoteker bukan apotiker

    1. menurut kamus bahasa indonesia yg benar adalah “Apotek” 😀

  18. fress…ini dia yang aku suka dari mb indri..nambah inspirasi…hihihi

    1. makasih mbak kunay 🙂

  19. Jika kata ‘silakan’ adalah ejaan yang baik dan benar sesuai dengan EYD, berarti jika nantinya mempersilakan seseorang atau tamu untuk duduk, orang atau tamu tersebut harus duduk bersila dong? kalau orang yang bersangkutan tidak duduk bersila gimana? apa kata ‘silakan’ termasuk komunikatif atau tidak? walaupun benar adanya bahwa kata tersebut sesuai EYD. Banyak nanya ah! maap ya Mba. Terima kasih.

    1. sudah dijelaskan pada artikel di atas bahwa kata sila terdiri dari 2 sinonnim, yaitu silakan dan bersila yg masing2 sama dalam hal tulisan namun beda arti 😀

  20. Eh,,tapi saya coba translate dua-duanya bisa mbak, artinya please silakan sama silahkan. malah pas saya ketik silakan saya diarahkan ke silahkan, kalau saya biasanya buat keyword tergantung kebiasaan pengguna saja, tidak usah baku. Asal masih bisa di translate di Google. 🙂

    1. kalau google sih bisa membaca apa aja, termasuk memaknai salah eja, salah ketik, dll 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *