Perjalanan Mengenal AdSense, Kenapa Nggak Dari Dulu?

Halo Juragan, Saya salah satu orang yang cukup bersyukur bertemu dengan website ini. Banyak ilmu yang bisa dipetik dan membantu perjalanan saya dan suami menjelajahi dunia persilatan Adsense. Maka, tulisan pertama saya di juragancipir.com ini saya dedikasikan sebagai rasa terimakasih pada JC dan ownernya, mbak Indri.

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan kami mengenal Adsense. Sebenarnya yang punya peran besar dalam mengelola Adsense sih suami, tapi doi alergi banget sama media sosial. Udah nggak disentuh, jadi saya yang lebih aktif di forum dan media sosial.

Semua bermula pada tahun 2000, suami sudah mulai ngeblog. Tapi dasar doi aktivis komunitas, doi ngeblog cuma nulis kegiatan komunitasnya aja. Berlanjut tahun 2010, tahun dimana kami kali pertama bertemu. Doi masih suka ngeblog buat komunitasnya. Akhirnya  tahun itu ketemu sama seorang wartawan media online lokal di kota Solo, sebut saja mas B. Doi menyarankan beli domain wartasol*.com, dan di isi dengan berbagai macam direktori kota Solo. Siang malam suami nulis tentang kota Solo, tujuannnya suatu saat domain akan dijual, katanya kalo domain dan ada artikelnya kan bisa dijual mahal. Kalau nggak dijual, kita mau pasang iklan mandiri. Tapi kita nggak paham gimana cara pasang iklan mandiri. Akhirnya, blog itu hanya bertahan satu tahun sampai domain habis. Kami nggak perpanjang karena kondisi keuangan emang lagi labil, ditambah nggak ada kejelasan pendapatan dari blog tersebut. (FYI, domain tersebut sekarang dah dipake orang dan aktif pake GA juga).

Kebetulan kami sama-sama menyukai dunia buku, tahun 2012 kami mendirikan perpustakaan kecil disamping rumah suami. Kami memberinya nama “Tumpi Readhouse”. Tumpi menempati rumah yang tidak dipakai (kunjungi Tumpi di tumpi.org). Buku-buku kami dapat dari sumbangan teman-teman. Seminggu sekali kami bikin agenda literasi, semacam nonton film&diskusi, workshop nulis, Kelas Bahasa Isyarat, Kelas Lukis, Kelas B. Inggris dll. Mendekatkan akses buku ke anak-anak adalah misi kami. Selain itu, kami bermimpi, kalau kami punya anak, anak-anak kami harus hidup dekat dengan buku. Karena tugas manusia adalah menjadi manusia, dan iqro’ adalah tugas pertamanya.

Tumpi-Readhouse

Sebelum menikah, suami pernah nyalon sebagai Kepala Desa. Gagal pastinya. Karena kalah modal. Calon lain berjumlah 7 orang, semua bermodal besar. Bukan hal yang rahasia lagi kalau setiap calon kepala desa mengeluarkan ratusan juta untuk menduduki kursi pertama di Desa kami. Suami hanya bermodal visi, misi dan pemikiran. Doi bikin web desa (bisa diakses disini; desapentur.com), menulis beberapa potensi desa yang bisa dikembangkan. Kelemahan desa, potensi desa dan solusi untuk desa dikemas dalam statistik dan data. Ada visi besar bahwa desa kami harus mandiri, bisa tumbuh dan berkembang dengan potensi yang ada. Tapi itu semua bukan bahan pertimbangan di Desa kami. Uang tetap menjadi pemenang.

Tahun 2013 kami menikah. Masih dalam keadaan ekonomi yang labil, tapi kami percaya, ada semacam bola salju yang sedang dipersiapkan Tuhan. Saat ini kami hanya punya segenggam bola salju, tapi dengan terus berproses, bola salju yang menggelinding semakin lama akan semakin besar. Pada 2014 anak kami yang pertama, Gantar B. Mayangkara lahir kedunia. Laki-laki yang yang suka menyebut dirinya sebagai “anak hebat”.

Selama tahun 2014, suami bekerja sebagai fasilitator PNPM untuk desa wisata, tapi gaji turun 4 bulan sekali. Uangnya kami belikan 2 ekor kambing untuk aqiqah anak lanang. Kami hidup seadanya, dari hasil bikin website pesanan orang dan foto panggilan.

Kontrak PNPM habis, kami baru mengerti ada seacam agen iklan di internet, Google Adsense. Ceritanya, suami dapat tawaran dari Platinum Cineplex bikin agenda pemutaran film rutin disana. Suami (dasarnya orang komunitas film) kepingin bikin semacam komunitas film. Doi butuh domain untuk komunitasnya (pikiran doi, kalau brand baru harus bikin web). Nah, ketemulah dengan teman wartawannya yang tadi, mas B. Mas B ngajak suami ketemu bosnya, pak Duto Sri C, agar mau bantu bikin web film. FYI, pak Duto adalah pemilik web simomot.com dan omkicau.com, salah satu blogger sukses dan terkenal di Indonesia. Sekarang menjadi salah satu idola saya.

Pada waktu itu pak Duto masih pake WordAds. Tapi suami mulai browsing-browsing dan ketemu AdSense. Akhirnya siang malam suami nulis artikel tentang film, tanpa kerjasama dengan pak Duto. Berhari-hari nggak pulang karena akses internet dirumah kaya keong. Doi nginep diSolo kaya bang Toyip. Pulang-pulang bau kecut, hadeh..

Berbulan bulan coba daftar AdSense dan selalu ditolak. Setelah lima malem nggak pulang tiba-tiba ada sms, “Sayang, akhirnya kinek*ta.com diterima AdSense” Alkhamduillah. Sejak itu suami makin rajin nulis, meski pendapatan awalnya berkisar $0,05 setiap harinya.

Saya sampe mikir, kenapa nggak dari dulu ya kenal AdSense. Kalo dari dulu kan wartasol*.com dah jadi duit kan? Tapi semua sudah direncanakan Tuhan.

Saya dan suami sangat  bersyukur gagal menjadi kepala desa.  Juga dengan kegagalan lain yang tak saya sebutkan disini. Tuhan itu selalu punya rencana yang indah. Jika kami menjadi kepala desa, mungkin tak akan bertemu pak Duto, juga tak akan bertemu AdSense, juga tak akan ketemu Juragancipir, apalagi bertemu anda. Kami tak akan punya dunia yang selalu bersama anak kami. Tak mungkin bisa kerja dirumah, melihat anak kami tumbuh dan besar. Kami akan sibuk bertemu orang-orang dan lupa kapan kami memeluk lelaki kami.

November 2014 suami ngajak temennya kerja bareng. Bikin web bareng. Awalnya, 20 artikel setiap hari rutin dipublish. Kalau sekarang paling 6 artikel tiap harinya. 24 Februari 2015, tepat di ulang tahun pertama Gantar, kami terima gaji pertama dari AdSense. Alkhamdulillah, sekarang udah rutin gajian dari Adsense.

Saya juga menulis sendiri sesuai dengan minat saya. Tapi juga tak mudah. Server sering down (sekarang dah pindah sama kaya JC sih), dihack orang juga sering, artikel dicopas juga bukan sekali dua kali lagi. Tapi tanpa itu semua saya dan suami akan kehilangan proses, akan kehilangan bagaimana cara belajar yang baik.

Saat ini, kami masih terus berproses, terus belajar dan belajar. Sekarang kami berusaha menjadi ayah dan ibu yang baik untuk anak kami. Kami sangat bersyukur, didekatkan dengan pekerjaan yang kami sukai, menulis. Bekerja dirumah kami yang sederhana, sambil melihat anak kami tumbuh dan besar. Selain mencerahkan diri kami sendiri, menulis juga mencerahkan orang lain.

Semoga tulisan ini menginspirasi agar kita sama-sama teguh dalam belajar. Salam.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer

Bagikan:
22 Comments
  1. Risman Aji Darmawan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.