Perjalanan Dengan Argo Gluduk, Menantang Adrenalin

Argo gluduk.. mungkin asing terdengar bagi telinga orang awam. Kalau argo argo yang lain, misalkan argo dwi pangga, argo lawu, argo wilis… adalah kereta api yang biasa melayani rute komersial. Sedangkan argo gluduk adalah jenis kereta yang biasa ditumpangi musafir-musafir, yaitu kombinasi dari kereta api pertamina dan kereta yang mengangkut barang. Rute perjalanannya yaitu dari madiun melintas ke kota Jogjakarta (kota penulis berasal).

Kemudian sampai ke stasiun kroya dimana penulis akan berpindah ke kereta barang menuju stasiun kota jakarta. Mengapa harus berpindah? ya kalau tidak berpindah ya nyasar ke cepu.. salah satu kota tempat penghasil minyak terbesar di Indonesia. Suatu perjalanan yang menantang adrenalin dari seorang musafir.

tour travel, tiket kereta api, biro perjalanan, agen perjalanan
Ilustrasi: novi.malhikdua.com

Menantang adrenalin? ya tentu saja, kalau kereta komersial kan bisa duduk santai di gerbong penumpang, atau duduk di dekat wc kalau itu kelas ekonomi…  Sementara kalau di argo gluduk, penulis harus berdiri dengan tangan memegang erat tiang-tiang besi di belakang gerbong pengangkut minyak, selain harus memperhatikan keseimbangan…

factor cuaca juga menjadi kendala.. pernah penulis diterpa oleh hujan lebat di sertai angin kencang .. alhasil ya harus berbasah-basah ria. Terbayang tidak kalaus ampai jatuh.. hmm tentu saja hanya ada 2 pilihan, kuburan atau rumah sakit.

Tapi walaupun sering bergelantung,  banyak juga lho masinis-masinis yang berbaik hati. Sebut saja pak A, yang telah menjadi masinis selama separo umurnya dan saat ini tinggal di daerah kroya cilacap… beliau bahkan mempersilahkan saya masuk di lokomotif bila dia tau yang bergelantung di gerbong minyak itu adalah saya.

Kami saling berbagi kisah. Pak A sering bertanya motivasi saya menjadi musafir. Dan tentu saja saya berusaha menjawab dengan jujur, karena kejujuran adalah segalanya bagi saya. Saya bilang bahwa saya mengalami kehampaan hidup. kemudian dengan tekad bulat saya melepas semua atribut dunia. Dan pergi tanpa membawa bekal apapun selain pakaian yang melekat dan beberapa potong pakaian, celana dan sarung.

Ejekan halus maupun kasar bahkan kekerasan fisik sudah menjadi bagian dari kehidupan saya selama menjadi musafir. Yah bagi masyarakat awam, musafir hanyalah sampah masyarakat yang pantas disejajarkan dengan gelandangan atau pun pengemis. Tapi bagi musafir-musafir, khususnya saya, perjalanan hidup sebagai musafir, adalah perjalanan mencari jati diri. siapa diri kita sebenarnya. Dan membuat saya kini bisa melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda.

Awal 2010, saya memutuskan pensiun sebagai musafir. Kemudian menikah dan tinggal di desa Kasihan, kab. Bantul,  Jogjakarta.

Kembali lagi mengenai tema di atas. Dari Pak A, saya juga banyak menimba ilmu. Beliau mengatakan tentang segala sesuatu mengenai kereta api pertamina. Kereta api ini disebut juga dengan kereta api ketel. Kereta api ketel adalah kereta api angkutan barang yang mengangkut bahan-bahan cair seperti bahan bakar minyak (BBM) dan BBK (bahan bakar khusus). Salah satu kerjasama PT Kereta Api Indonesia dalam angkutan BBM dan BBK dengan PT Pertamina. Dengan kereta api maka pengangkutan BBM dan BBK akan lebih cepat serta rute-rute perjalanan kereta api pertamina.

Pak A juga sering bercerita tentang kehidupan keluarganya. Anak bungsunya yang tiada karena kecelakaan. Acap kali kami sering meneteskan air mata bersama. Tapi semenjak status musafir sudah menjadi samar, penjahat berstatus musafir, gelandangan berstatus musafir. Serta banyaknya masinis yang menjadi korban perampokan, maka sekarang kalau ketahuan ada penumpang gelap, maka masinis dan petugas yang menjaga kereta akan menurunkan penumpang tersebut di sembarang tempat.

Jadi terbayang rasanya nasib teman yang masih menjadi musafir dan diturunkan secara paksa. Mending kalau diturunkan di stasiun terdekat.. tapi ini diturunkan dengan paksa, bahkan sampai terpelanting jatuh……… hmmm tak sanggup untuk mengulasnya.

Itu adalah sedikit cerita mengenai perjalanan dengan argo gluduk. Insyaallah di lain kesempatan saya akan menceritakan tentang perjalanan dengan kereta kedua dari stasiun kroya menuju stasiun kota dengan menaiki keret api barang.

( i ) Simak juga perjalanan selanjutnya Antara Kroya Dan Jakarta, Ketika Derita Berganti Nikmat.

Penulis : Risman Aji Darmawan
(Terverifikasi)

Address : Desa Kasihan, Kab. Bantul, Jogjakarta

Facebook : Risman Aji Darmawan

Google+ : +Risman Aji

Bagikan:
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.