Pengalaman Reportase Layaknya Wartawan, Masih Pake Blogger Gratisan

Banyak yang beranggapan bahwa blogger kerjaannya hanya berada di depan layar laptop terus, seharian. Sampai saat ini pun masih sering melakukannya. Hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Berdasarkan pengalaman saya menulis, ide-ide tulisan bisa berasal dari berbagai penjuru. Bisa lewat pengalaman pribadi maupun pengetahuan yang didapatkan dari membaca atau melihat peristiwa sehari-hari. Banyak pula yang tadinya tidak mengetahui apa-apa, tapi tetap bisa menulis.

Caranya, tinggal browsing-browsing di internet, googling sana sini, lalu jadilah sebuah tulisan. Tujuannya yakni untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya. Jangan disalahartikan sebagai aktivitas copas, lho, ya.

Nah, seiring berjalannya waktu, ternyata saya mendapatkan pengalaman baru yang tadinya sama sekali nggak terpikirkan. Yaitu turun langsung ke lapangan untuk mencari berita. Istilah ilmiahnya reportase. Seperti halnya yang sering dilakukan oleh wartawan profesional yang bekerja di media-media mainstream.

Pengalaman reportase bermula ketika saya mendapatkan undangan untuk menghadiri konferensi pers. Undangan ini saya dapatkan dari seorang relasi, ia bekerja di sebuah PR (public relations) agency di Jakarta.

Lalu, bagaimana saya yang hanya memakai blogger gratisan bisa mendapat kesempatan istimewa itu? Waktu itu saya masih menggunakan hosting gratisan dari Blogspot.com dan hanya membeli TLD.

Saya bilang istimewa karena menghadiri konferensi pers yang acara utamanya berupa launching product sebuah brand itu hanya bisa dilakukan jika kita mendapatkan undangan.

Artinya, tidak sembarangan orang bisa menghadiri acara yang dilangsungkan di tempat eksklusif seperti hotel atau restoran misalnya. Kamu harus punya channel atau koneksi dengan orang-orang yang bekerja di PR agency.

Perasaan saya waktu itu, antara bangga, tidak percaya, dan sangat senang sekali. Karena ternyata, hobi blogging mampu memberikan saya pengalaman-pengalaman baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Lagipula, reportase itu berkaitan erat dengan jurusan saya waktu kuliah dulu, yakni Ilmu Komunikasi.

Jika dirunut lagi ke belakang, maka ternyata ada benang merah dengan pengalaman saya sebelumnya. Saya pernah punya pengalaman meliput sebuah bisnis di mana saya mewawancarai langsung owner-nya. Dari situlah networking saya terbangun.

Bagi orang yang belum mengenal dunia jurnalistik, mungkin akan berpikir: “Ngapain repot-repot ke lapangan?” Lebih enak kan, duduk manis di depan laptop, sambil ngopi dan makan camilan.

Hingga kini, saya tetap menyeimbangkan antara menulis berdasarkan literatur maupun menulis berdasarkan reportase. Karena bagi saya, reportase itu memberikan kepuasan tersendiri yang tak didapatkan hanya dengan sekadar blogging.

Lewat reportase pula, saya bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Mewawancarai seorang pengusaha, manager bahkan CEO sekali pun saya pernah melakukannya. Saya bisa merasa percaya diri ketika berhadapan dengan orang-orang penting.

Selain itu, saya bisa mengunjungi tempat-tempat eksklusif yang tak pernah terjamah oleh kalangan seperti saya, hehe..

Meski demikian, melakukan tugas kewartawanan harus berdasarkan kode etik jurnalistik. Tidak boleh menerima pemberian dalam bentuk apapun seperti menerima amplop misalnya. Karena jika itu dilakukan, maka siap-siap lah berhadapan dengan aparat penegak hukum. Parahnya, lagi bisa mendekam di balik jeruji besi.

Eitss, jangan sampe lah, ya. Hehehe..

Reportase berbeda mekanismenya dengan blogging. Meskipun hasil akhirnya bisa saja sama, yakni artikel tulisan yang dibaca di website/blog. Nah, jika ada kesempatan, saya akan sharing lagi nanti di lain artikel.

Bagikan:
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.