Pengalaman Mengusir Hantu Penunggu Pabrik Di Kota Nganjuk

Serial perjalanan sebagai musafir membawa saya ke kota Nganjuk.  Kali ini saya selain bersama sulung juga bersama muhammad khamim tohari, musafir dari Tuban.

Kebetulan Khamim mendapat proyek untuk mengusir mahluk gaib yang melakukan teror di pabrik di kota Nganjuk. Jadi mirip pemburu hantu saja saya ini 😀

Oh ya, 2 orang diatas adalah musafir senior yang sampai kini pun masih mereka menjadi musafir. Dan saya merasa sangat terhormat bisa tergabung dengan mereka, sehingga mempunyai pengalaman. Simak juga Satu Kisah Supranatural Seru Di Kaki Bukit Cibadak.

pabrik-nganjuk
Ilustrasi

Singkat kata kami diterima oleh Pak Anwar sebagai pemilik pabrik itu. Dari pak Anwar, kami mendapat cerita bahwa sering terjadi kasus orang kesurupan, terjadi penampakan serta benda bergerak sendiri dan tak lupa banyak suara-suara aneh.

Khamim hanya menjawab, “itu emang udah ciri khas mahluk halus yang mempunyai tingkat keusilan yang tinggi“. Khamim hanya meminta untuk satu malam ini tidak ada shift malam, jadi pabrik tidak melakukan ativitas. Pak anwar hanya mengangguk.

Menjelang mahrib saya dan Khamim pun pergi ke musholla yang ada di pabrik, sementara Sulung yang tidak sholat sibuk berkeliling pabrik sambil melakukan serangkaian ritual. Oh ya, perlu pembaca ketahui mengenai makhluk halus, terkadang banyak makhluk yang sulit untuk dihadapi lewat amalan islam, tapi begitu mudah dibasmi dengan amalan kejawen.

Mengapa harus dihadapi bertiga? Selain karena tingkat keusilan yang tinggi, yang dihadapi juga berbeda dibanding dengan kisah saya dalam Misteri Hantu Rumah Kosong Di Timur Pekalongan.

Agar lebih mudah dimengerti, sewaktu di Pekalongan mengapa saya bisa seorang diri, karena yang dihadapi hanyalah makhluk halus sekelas kopral dalam segi kepangkatan. Walaupun itu banaspati, tapi juga mempunyai tingkatan kemampuan. Sama halnya juga dengan pocong, kuntilanak, bahkan kuntilanak merah sekalipun.

Dan kini menurut deteksi Sulung, makhluk halus yang menggoda mempunyai kekuatan sekelas kolonel. Apalagi jauh lebih banyak siluman-siluman nya yang notabene jauh lebih berbahaya dibandingkan sekelas pocong atau pun kuntilanak.

Jam 9 kami melakukan breefing. Sulung yang duluan masuk, menuju ke alat pabrik karena di situ banyak godaan yang muncul. Disusul Khamim yang masuk menuju ke bagian pekerja karyawan. Sementara saya berjalan memutari pabrik. Memfilter agar tidak ada makhluk halus luar yang membantu. Kami pun berpesan dengan satpam penjaga pabrik agar berada di posnya saja, apapun yang terjadi.

Jam 12 tiba.  Sulung pun masuk. Disusul Khamim. Saya dengan posisi saya yang hanya berjaga jaga di luar, berjalan memutari pabrik. Sekelebat saya melihat banaspati. Ada dentuman keras di atas pabrik. Saya melihat ada bayangan hitam mencoba memasuki pabrik, saya pun membaca asma Allah agar bayangan hitam itu tertahan.

pabrik-angker
Ilustrasi

Saya mendapat cerita ini dari Sulung dan Khamim yang bercerita setelah proses pengusiran selesai. Sulung masuk ke ruang mesin. Di situ ada satu siluman yang rupanya tokoh utama. Siluman itu bertinggi besar dan makin membesar makin membesar, sehingga bertinggi 10 meter lebih.

Sulung hanya berteriak, “mau jalan damai dengan kalian pergi baik-baik atau kami usir”. Rupanya siluman itu tidak terima. Sontak banyak barang-barang beterbangan menuju ke arah Sulung, rupanya siluman itu mempunyai kemampuan untuk membuat semacam angin topan. Sulung menghindar kali ini sambil berteriak, “keluarkan semua ilmu mu hai siluman”.

Sekarang beralih dengan Khamim yang berduel dengan makhluk tanpa kepala dibantu dengan beberapa siluman harimau.

Saya masih berjalan memutar. Saya bersyukur bahwa saya kebagian posisi yang paling enak. Gak kebayang harus beradu dengan siluman yang telah berusia ratusan tahun, penghuni asli tanah ini. Dan tugas menjaga agar tidak ada nya makhluk halus lain diluar pabrik yang masuk, adalah tugas paling mudah.

Hanya memutus sinyal komunikasi. Seperti halnya manusia yang bisa berteriak minta tolong, makhluk halus pun juga bisa meminta tolong kepada rekan-rekannya. Dan setiap sinyal minta tolong itu lewat, saya hanya memutusnya dengan asma-asma Allah.

Waktu rupanya sudah menjelang pagi. Tampak Sulung dan Khamim sudah keluar dengan wajah gembira. Rupanya mereka bisa mengatasi semuanya.

Pagi harinya Pak Anwar langsung datang dan memberi amplop untuk Khamim. Kami pun berpamitan lalu mencari warung terdekat untuk makan enak. Sambil tak lupa Khamim memesan nasi bungkus sebanyak 30 porsi.

Selepas makan di warung, setiap gelandangan atau pun orang tak mampu diberikan oleh Khamim nasi bungkus serta sejumlah uang. Sambil tak lupa memasukkan juga sejumlah uang di kotak amal masjid atau pun musholla yang dilewati.

Hal itu dilakukan sampai nasi bungkus dan uang hasil pengusiran mahluk halus itu habis. Bagi musafir tulen, tujuan menjadi musafir adalah bukan untuk memperkaya diri. Jadi setiap kali mendapat job dan berhasil ya harus segera dihabiskan. Bagi kami bertiga tak punya uang bukanlah suatu masalah, toh kami bisa makan dan minum secara layak tiap harinya. Itulah Kuasa Allah dan itulah keistimewaan musafir.

Semoga cerita ini bermanfaat dan menjadi hikmah, Alhamdulilah. jangan lupa simak juga Mempunyai Ilmu Hikmah Itu Berat Resiko Dan Tanggung Jawab. [radjc-012]

Bagikan:
13 Comments
    • Risman Aji Darmawan
        • Risman Aji Darmawan
  1. Risman Aji Darmawan
      • Risman Aji Darmawan
    • Risman Aji Darmawan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.