Mengukur Kamahiran Kita Dalam menulis Artikel

Keahlian menulis artikel memiliki beberapa macam tingkatan yang dimulai dari tingkat terendah hingga tingkat master. Sama halnya ketika kita belajar naik sepeda motor. Ketika kita baru bisa naik sepeda motor, maka kita tidak berani tengak-tengok selama mengendarainya, apalagi ketika memasuki jalan raya. Tangan terasa kaku dan pikiran terasa tegang.

Tapi setelah kita mahir, maka tangan terasa santai ketika memegang setir dan pikiran kita bisa santai, bukannya tegang lagi. Bahkan terkadang kita bisa sambil ngobrol sama orang yang kita bonceng di belakang. (namun jangan dibiasakan berkendara sambil ngobrol).

Dalam belajar berbicara bahasa inggris, seorang guru saya pernah mengatakan, “jika kalian bisa berbicara bahasa inggris tanpa berpikir, berarti kalian telah mahir dalam berbahasa inggris”.

Sebenarnya masih banyak percontohan untuk mengukur tingkat kemahiran kita dalam menguasai suatu keterampilan atau keahlian. Namun dari dua contoh di atas saja kita setidaknya sudah bisa memahami.

Dalam hal menulis artikel, ada beberapa ukuran atau pedoman untuk mengetahui seberapa mahir diri kita dalam menulis artikel. Berikut ini ukuran sederhana untuk melihat kemahiran kita dalam menulis artikel:

1. Bisa menulis tanpa berpikir

Jika kita bisa menulis artikel tanpa berpikir, berarti kita telah mahir dalam menciptakan artikel. Hal ini bukannya kita menulis tanpa berpikir, namun kita tidak terlalu mengeluarkan banyak energi untuk berpikir ketika kita menulis artikel. Cukup dengan santai saja, hanya dengan coretan ringan maka kita telah menulis artikel berkualitas.

Tidak seperti dulu krtika pertama kali belajar menulis artikel yang seringkali menulis satu artikel saja memakan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Belum lagi edit sana edit sini artikel yang sudah terpublish.

2. Bisa menulis secara instant

Kita bisa menulis artikel secara langsung tanpa mempersiapkan rencana atau konsep, melainkan tulisan dibuat secara mendadak. Jika kita telah menjadi penulis artikel yang mahir, maka ide menulis akan terus berseliweran di kepala dan bahkan tenaga kita tidak mampu untuk menuliskan ide kita yang terlalu banyak.

Selain itu, kita tidak memerlukan media lain untuk menulis, misalnya m office word, karena hal itu hanya akan membuang-buang waktu, lebih baik menulis langsung di entry blog dan langsung publish. Dan selanjutnya kita menulis artikel baru lagi, bukannya mengedit artikel yang telah kita publish apalagi telah dikomentari oleh pembaca. Mengedit artikel adalah bukan kebiasaan penulis profesional karena hal itu sama dengan dua kali kerja yang hanya membuang-buang waktu saja.

3. Tulisan kita dibaca orang

Terkadang orang-orang membaca tulisan kita di blog tanpa meninggalkan komentar, apalagi jika ada orang yang berkomentar, maka sudah pasti tulisan kita dibaca orang meskipun hanya sekilas. Nah, ini juga merupakan bagian dari cara untuk melihat seberapa baik kemahiran kita dalam menulis artikel.

# Ini saja yang bisa saya sampaikan kepada teman-teman kali ini dan semoga bermanfaat, lain kali disambung lagi. Jangan lupa simak juga Apa Rencana Blogging Anda Pasca Lebaran Idul Fitri 1436 Hijriyah?

Bagikan:
7 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.