Menemukan Selendang Wewe Gombel di Hutan Ladang Mbaon

Halo juragan… Selendang wewe adalah selendang milik wewe gombel atau genderuwo perempuan yang sering diceritakan dalam mitologi jawa. Selendang wewe mirip dengan popok wewe, hanya saja kalau selendang wewe berbentuk kain selendang yang kumal, sedangkan popok wewe berbentuk kain popok bayi yang kumal.Konon orang yang memiliki selendang wewe atau popok wewe bisa menghilang karena kekuatan sihir yang ada pada kain milik makhluk halus dari bangsa genderuwo tersebut. Simak juga 10 Kebiasaan Hantu Genderuwo Yang Perlu Kamu Tahu.Berikut ini ada sebuah cerita nyata yang dialami oleh salah seorang tetangga saya bernama Sumini, ia menemukan sebuah selendang wewe warna merah di ladang mbaon miliknya. (mbaon adalah ladang yang menumpang di atas tanah milik perhutani).

Bagaimana kisahnya? Silakan teman-teman simak cerita dari seorang nenek umur 55 tahun bernama Sumini berikut ini.

Setiap hari saya selalu pergi ke ladang mbaon milik saya yang terletak di wilayah hutan milik perhutani kph blitar. Seperti biasanya, saya ke mbaon untuk merawat tanaman-tanaman saya di ladang tersebut, yaitu tanaman ubi kayu atau singkong.

Pada suatu hari yang panas selepas tengah hari dan bertepatan di hari jum’at, saya hendak beristirahat sebentar dari bekerja di mbaon dengan berteduk di bawah sebuah pohon beringin yang besar dan rindang. Pada hari itu saya sedang berada di mbaon sendirian dan tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu ditemani oleh suami saya.

Ketika berada di bawah pohon beringin, mata saya tertuju pada sebuah selendang warna merah yang tergeletak di wawah pohon. Dalam hati saya sudah curiga, jangan-jangan ini adalah selendang yang mirip popok wewe yang biasa diceritakan oleh orang-orang. Tapi ini berbentuk selendang dan bukannya popok. Selendang ini berwarna merah tapi terlihat sangat kumal dan baunya apek sekali meskipun bentuknya masih bagus atau tidak terlalu rusak.

Lantas saya mengambilnya dan saya masukkan ke dalam keranjang, kemudian pada sore harinya saya pulang. Setiba di rumah, selendang merah tersebut langsung saya cuci sampai bersih sehingga berbau harum dan tidak apek lagi, lalu saya gantung di jemuran di dalam rumah. Saya tidak mendapat firasat apa-apa ketika membawa selendang tersebut pulang ke rumah dan mencucinya.

Namun ketika tidur, pada tengah malam saya bermimpi ada seorang nenek tua berwajah keriput serta berambut gimbal dan awut-awutan, ia mengatakan bahwa selendang merah yang saya ambil tersebut adalah miliknya. Jika saya ingin memiliki selendang tersebut, maka saya disyaratkan harus menebus dengan cucu saya yang masih kecil.

Waktu itu saya memiliki seorang cucu perempuan berumur 5 tahun, dan nenek misterius di dalam mimpi tersebut hendak mengambil cucu saya jika saya ingin memiliki selendang merah tersebut.

Maka keesokan harinya pada pagi-pagi hari saya langsung mengambil selendang merah di jemuran tersebut dan saya kembalikan ke tempatnya semula, yaitu di bawah pohon beringin di dekat ladang mbaon milik saya di hutan. Saya berangkat ke mbaon dengan diantar oleh suami saya, dan setelah itu saya pulang karena hari masih agak gelap atau terlalu pagi.

Setelah matahari mulai bersinar cerah pada pagi hari, saya berangkat ke ladang mbaon beserta suami saya untuk merawat tanaman. Seperti biasanya, saya membawa makanan berupa nasi dan sayur untuk sarpan pagi di mbaon. Ketika saya melintas di dekat pohon tersebut hendak menaruh bekal makanan saya, saya melihat selendang merah tersebut berada di atas pohon, dan saya tidak tahu siapa yang memindahkannya di atas pohon.

Suami saya juga keheranan melihat fenomena mistis ini, kami sangat yakin bahwa yang memindahkan selendang merah dari tanah ke atas pohon adalah makhluk halus yang disebut wewe gombel yang semalaman menemui saya di dalam mimpi dengan wujud seorang nenek tua renta dengan wajah keribut serta rambut acak-acakan.

Saya sama suami saya merasakan seperti ada hawa dingin serta getaran aneh yang membuat bulu kuduk saua berdiri. Saya bersama suami benar-benar merinding menyaksikan fenomena aneh ini. Namun saya berfikir postitif saja bahwa saya disini hanya berniat bekerja di ladang dan tidak berniat mengganggu siapapun, termasuk makhluk halus penghuni pohon besar di dekat ladang mbaon saya.

Akhirnya saya meneruskan bekerja di ladang hingga lewat tengah hari dan sorenya saya pulang. Setiba dirumah, saya langsung membuat selamatan kecil-kecilan dengan mengundang tetangga rumah untuk berdoa memohon perlindungan kepada yang maka kuasa dari godaan makhluk halus serta meminta dilimpahkan rejekinya dunia akhirat.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 2000 dimana cucu pertama saya masih berumur 5 tahun. Kini cucu perempuan saya tersebut telah lulus sarjana dan bekerja sebagai bidan di sebuah rumah sakit di Malang. Ketika masih kecil, ia pernah ditawar oleh wewe gombel untuk ditukar dengan selendang merah miliknya, namun tawaran barter tersebut saya tolak keras, dan alhamdulillah iman saya masih dikuatkan oleh yang maha kuasa dari godaan makhluk halus.

^^ Jangan lupa baca juga Pengalaman Mistis Naik Bis Hantu Jurusan Banyuwangi Surabaya.

Bagikan:
11 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.