Mempunyai Ilmu Hikmah Itu Berat Resiko Dan Tanggung Jawab

Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang kehidupan saya setelah tidak lagi menjadi musafir. Banyak ilmu ilmu yang saya buang, itu dikarenakan saya ingin memulai hidup baru.  Mempunyai ilmu hikmah itu berat. Karena harus mau menolong orang dan harus mau diuji setiap saat. Sementara saat ini saya pengen hidup normal.

Sejak artikel saya bertema guna-guna dimuat di juragan cipir (simak Cara Mengatasi Ilmu Guna Guna Paling Ampuh), banyak pesan berdatangan kepada saya bertanya maupun menyatakan diri terkena guna-guna. Mohon maaf bila saya tidak bisa membantu secara maksimal. Itu karena kemampuan saya sudah berbeda dibanding dulu. Terlebih dulu saya masih sendiri, sementara sekarang saya sudah berkeluarga.

ebook-2Brisman-2Baji-2Bhijau

Bila saya tidak hati-hati dalam menangani maka guna-guna itu bisa nyasar ke  keluarga saya. Itu yang terkadang tidak diketahui oleh orang banyak. Terlebih lagi, banyak diantara mereka yang pengen gratisan. Padahal untuk menangani guna-guna perlu lah ritual ritual khusus dan tidak bisa sekali jadi dan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Misalkan mereka sudah keluar biaya dan tidak sembuh, bisa saja saya terkena pasal 378 KUHP. Itu yang tidak saya ingini.

Sekarang saya ceritakan duduk permasalahnnya secara detil bila saya menolong orang. Misalkan saya menolong sebut saja Dian dari guna-guna. Yang mengguna-gunai Dian itu seorang dukun bernama sebut saja Zaipul. Bila Zaipul tidak terima maka dia akan minta tolong kepada teman-teman atau pun gurunya untuk menyerang saya. Itulah resiko terberatnya.

Kalau dahulu selama saya menjadi musafir, saya mempunyai banyak teman yang berkemampuan jauh di atas saya, serta saya bisa ritual di gunung atau pun di pantai. Tapi sekarang kan jamannya sudah berbeda, terlebih dunia supranatural adalah dunia yang kejam, dan nyawa setiap saat bisa menjadi taruhannya.

Mempunyai ilmu hikmah itu berat karena bukan saja berhadapan dengan dukun-dukun sakti saja tapi kita juga harus berhadapan dengan siluman harimau, siluman kuda, siluman monyet, siluman ular, dll. Belum lagi dengan pocong, kuntilanak, tuyul, banaspati, dll. Itu membuat hidup saya tidak tenang karena harus siaga terus.

Jadi sekali lagi saya tegaskan kepada pembaca juragan cipir yang membaca serial perjalanan saya selama menjadi musafir. Bahwa itu adalah masa lalu saya, sekarang saya adalah Risman Aji Darmawan yang berbeda. Saya tidak punya kemampuan apa-apa selain keyakinan kepada Allah.

Kalau kita merasa terkena gangguan negative, perbanyaklah shalat sunnah terutama shalat malam. Serta membaca al iklas, al falaq dan an naas sebanyak 41 x .  Serta tak lupa perbanyaklah sodaqoh serta selalu positif thinking. Itu resep saya dan yang saya lakukan sekarang.

Semoga pernyataan saya di juragan cipir ini bisa menjadikan hikmah bagi semuanya. Alhamdulilah. Jangan lupa simak juga pengalaman saya dulu dalam Satu Kisah Supranatural Seru Di Kaki Bukit Cibadak. [radjc-011]

Bagikan:
10 Comments
    • Risman Aji Darmawan
    • Risman Aji Darmawan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.