Kisah Misteri Riam Melanggar Kalbar

Hai semuanya šŸ™‚

Pada mood yang berbahagiaĀ ini, aku akan berbagi sedikit tentang pengalaman pribadiĀ ku yang lumayan misteriusĀ selama mengunjungi Riam Melanggar.

Oke simak baik-baik cerita dibawah ini (Pastikan kalian yang membaca artikel ini untuk tidak melamun, karena aku tak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal diluar akal sehat šŸ™‚ , hehehe bercanda)

Hari Minggu tanggal 10 Januari 2016, tepatnya jam 15:00 WIB kami yang tergabung dari 10 orang Mahasiswa telah sampai dengan selamat di Riam melanggar.

Oh iya… Sebelum melanjutkan cerita, sedikit kuĀ bagikan informasi bahwa penamaan Riam Melanggar diketahui memiliki banyak sebutan, antara lain: Bananggar, Banangar, Melanggar, Manangar.

Didalam wikipedia menyebutkan riam ini bernama Melanggar (bisa kalian searching sendiri di google).

Sedangkan untuk penamaan di plank selamat datang, disebutkan Riam Bananggar, seperti gambar dibawah ini.

pintu-masuk-riam-bananggar
Papan Riam Bananggar

Riam Bananggar terletak di provinsi kalimantan barat, Kab Landak, Kec Sarimbu.

Ya bisa dikatakan berada di ujung bumi Kalbar, yang dikarenakan sudah mendekati perbatasan EntikongĀ (Indonesia – Malaysia).

Oke singkat saja, pengenalan Riam Bananggar tersebut, jika kalian ingin mengetahui bagaimana ketinggian riam, rute perjalanan, dan tetek bengek lainnya mengenai Riam ini, kalian bisa mencari informasi nya di Wikipedia atau langsung membaca ulasan nya di blog ku šŸ™‚ .

Kembali ke cerita.

Setelah kami sampai di Riam, kami pun segera berbagi tugas, ada yang mencari kayu bakar, mendirikan tenda, memancing ikan, dan ada yang selfie šŸ™ .

KamiĀ tak mampu menahan takjub ketika mata ini dengan lelah memperhatikan pemandangan riam yangĀ tak mampu kami elak selama masing-masing bertugas.

“Sungguh Indah Ciptaan Tuhan Yang Satu ini” Gumam ku yang sedari tadi sibuk menancapkan tiang tenda

1 jam setelah kami menyelesaikan masing-masing tugas, kami pun segera mendekati dasar riam agarĀ dapat berada lebih dekat, tak lupa kami pun segera mengeluarkan gadget masing-masing untuk mendokumentasikan momenĀ terindahĀ ini.

Namun tepat pada pukul 5 sore, Terlihat salah satu temanku yang bernama nadia (bukan nama yang sebenarnya), sedang berjalan-jalan sendiri mengitari kolam air yang lumayan jauh dari depan RiamĀ tersebut.

Melihat gelagatnya yang aneh dari kejauhan, aku pun segera mendekatinya dengan berlari-lari kecil, karena tak biasanya seorang Nadia itu menyendiri.

“Tumben menyendiri? biasanya paling heboh kamu Nad?” Tanyaku sambil mendekatkan kamera di wajahnya.

“Apaan Sih !!!”

Braaaaaaap !!!

Tamparan tangannya yang keras tepat mengenai lensa kamera ku.

“Loh…lohh kok jadi ngambek gini? Ah…. parah kamu nad ! marah-marah aja, jangan kamera yang kamu jadikan sasaran”

“Kamu tu jangan ganggu aku la….”

Belum sempat ocehan nya selesai, aku pun langsung pergi meninggalkannya dari kolam tanpa perduli maksud ocehannya.

Namun selang beberapa saat setelah konflik konyol tersebut, terdengar suara lantang Nadia yang tiga sampai empat kali memanggil namaku.

“Arghhh.. apa lagi sih? dasar wanita !!” gumamku dengan kesal

Tak puas dengan teriakan tersebut, Nadia pun membesarkan volumenya, yang tak lain tak bukan hanya untuk memanggil namaku.

Kali ini aku berfikir sesuatu yang aneh, entah fikiran itu datang karena hari yang sudah mulai gelap, atau khawatir karena perasaan cinta?

Ternyata bukan hanya aku yang mendengar teriakan Nadia, terlihat dari kejauhan ada Roni, Beno dan Apri yang berlari secepat kilat berusahaĀ untukĀ mendekati Nadia.

Berbeda dengan ku yang sedari tadi diam melihat mereka berlari dan mematung penuh tanya akan teriakan Nadia barusan.

“Apa….apa…ada apa?” Kata roni yang sedari tadi berusaha memerankan aksi Dead Pool

Hening sepertinya menjadi pilihan Nadia pada saat itu, ditambah lagi dengan sorot mata yang tajam kearahku, membuat aku yangĀ tadinya berada 20 meter darinya, menjadi 2 meter dekat dihadapannya.

“Kamu ini kenapa Nadia? mau liburan atau main sinetron? Ingat enggak pesan ibu kepala desa barusan? jangan teriak-teriak di daerah riam !! nanti….”

“Ssssttttt… cukup do ! jangan dilanjutin” Cegah Apri yang sedari tadi membelai-belai rambut lurusnya Nadia.

“Oke…okee.. Fine… Lalu kamu Nadia ! apa motivasimu teriak-teriak manggil namaku barusan? apa masih kurang kamera ku yang kau tampar barusan?” Jawabku yang berusaha keras menahan api cemburu.

Tiba-tiba saja Nadia pun melempar senyum tanpa sebab kearah yang tak aku ketahui, apa mungkin karena takjub melihat pesona riam yang tepat berada didepannya? atau … ?

Lantas aku pun langsung menoleh ke kiri, kanan, dan kebelakang, berharap menemukan apa yang Nadia senyumkan.

“Hei.. hei…hei.. Nadia? What’s wrong? senyum kok gak ngajak-ngajak. Hahahah.” lagi dan lagi Roni berusaha menunjukkan kepiawaiannya dalam merayu Wanita, Namun gagal total. Nadia tak merespon sama sekali.

“Argh…. pasti kelaparan ni anak ! udah ah.. aku ke tenda dulu ya, mau ganti pakaian.” ujarku sambil memalingkan diri dari mereka berempat.

Semakin jauh jarakku dari mereka, tak membuat daya tangkap telingakuĀ berkurang, ku dengar beberapa kali mereka mencoba membujuk Nadia untuk segera beranjak dari kolam, namun seperti biasa, Gagal !!!

Sesampainya ditenda, aku menceritakan kejadian tersebut kepada teman-teman wanitaku yang sedari tadi sibuk berkutat dengan masakan yang sampai sekarang belum juga usaiĀ šŸ™ .

Ada Caca dan Mia, mereka berdua terlihat serius mendengar ceritaku terhadap Nadia yang mungkin ada hubungan dengan hal yang misterius. Sampai-sampai, belum sempat aku mengakhiri story telling ku, mereka telahĀ berdebu kabur menuju Nadia dan kawan-kawan.

Lalu… Hanya aku dan eran mengisi kekosongan tenda.

“Do…do… Nadia sedang datang bulan kali ya?” Tanya Eran yang sedari tadi sibuk menjolok-jolokkan Hpnya ke arah atas, kiri, dan kanan, berharap mendapatkan sinyal telepon.

“Iya kali….” Jawabku cuek.

“eh…Ran…ran…. coba kamu lihat diatas aliran air riam itu, kamu ada ngeliat batang pohon nyangkut enggak? Tanyaku kembali sambil menunjuk ke arah riam.

“Mana…?”

“itu… sini-sini ngelihatnya… nah bagaimana? kamu lihat enggak?” Ujar ku sambil menarik Eran yang masih sibuk dengan HP nya.

“Mana… mana…. !!! Alaamak… Iyaaa ya… Kok enggak jatuh kebawah ya batang pohonnya? teman-teman yang lain udah tau belum do?”

“Enggak tahu tuh…. Ah… mungkin mereka udah tahu duluan dari kita, makanya enggak seheboh kayak kita berdua sekarang” Jelasku kepada Eran, yang mungkin sudah berfikiran macam-macam terkait dengan batang pohon tersebut.

Kulihat arloji ditangan kiriku, telah menunjukkan pukul 17:45 WIB, sesekali akuĀ menatap iba ke arah masakan yang dari tadi belum kunjung usai.

10 Menit kemudian….

“Wah…asyik ya mojok berduaan, enggak ngajak-ngajak. hehehe” Celoteh Roni yang terlihat sangatĀ banggaĀ menggadeng Nadia karena lemas akan sesuatu.

Kaget pun tak dapat aku elakkan pada saat itu, sehingga memaksaku untuk menoleh kearah belakang.

“Itu…. kenapa Nadia? Sakit?” Tanyaku yang tiba-tiba menjadi seorang yang perhatian.

Aku pun memberanikan diri untuk mendekati Nadia, sambil menyeka keningnya yang tiba-tiba hangat tanpa sebab.

Perlahan-lahan aku menuntunnya untuk duduk disekitar beranda tenda, lalu bergegas mengambilkannya air putih, berharap air putih yang aku berikan bisa menormalkan fikiran misterius Nadia.

Binggo !!

Nadia pun akhirnya leluasaĀ berbicara, setelah beberapa tegukan air putih penuh cinta tersebut.

“Do… maaf ya.. atas kejadian barusan? Sepertinya sulit aku mau menjelaskannya dari mana” GelagatĀ Nadia yang berbeda 360 derajat dari sebelumnya.

“Udah ah.. enggak usah terlalu difikirkan, aku ngerti kok, kita semuakan kecapekan setelah 7 jam perjalanan yang kita tempuh untuk kemari.

Pada saat itu aku tak memikirkan hal yang aneh terkait dengan perubahan psikis Nadia, ya namanya juga wanita, perasaan dan mood dapat berubah dalam sekejap, jadi tak salah jika ada kalimat yang mengatakan.

“Wanita itu bagaikan teori atom”.

Namun saat itu membuat diriku berbeda, fikiranku yang selalu cuek dan menjunjung tinggi rasionalitas, berubah seketika setelah mendengar kalimat misterius yang diucapkan dari bibir manis Nadia.

“Do… kamu mau tahu enggak?Ā Ah.. pasti kamuĀ enggak bakalan mau tahu dengan penjelasan ini”

“Iya.. Nad… cerita aja, aku dan teman-teman bakalan dengerin kok. Nih…Janji seorang laki-laki, hehehe” Jawabku dengan meyakinkan sambil menyodorkan jari kelingking kananku kepada Nadia.

Huft… akhirnya Nadia kembali tersenyum normal, setelah mendengar kalimat “janji seorang laki-laki” yang aku ucapkan.

“Jadi begini… waktu kita-kita sedang asyik berfoto, kan aku berada dibelakang kalian sambil merekam video”

“iyaa…. terus-terus !!” CeletukĀ Beno yang sudah terhipnotis dengan cerita Nadia.

Plaaakk !!! jitakkan pertama mulus mendarat dikening Beno…

“Aww… sakit tahu !!” ringgis Beno.

“Makanya.. jangan kebiasaan memotong pembicaraan orang !”

“Boleh aku lanjutin ceritanya?” Potong Nadia sambil tertawa kecil melihat tingkah bodoh ku dan Beno.

Kami pun serentak menganggukkan kepala, yang bertanda Iya .

“Jadi… ketika aku sedang fokus merekam kalian, aku dikagetkan dengan suara nenek-nenek yang terdengar samar, tapi semakin lama semakin jelas, lalu dengan spontan aku menoleh kebelakang, dan ternyata benar !! ada seorang nenek bungkuk menatapku sambil berjalan melewatiku dan berkata: “cuk…cuk…permisi ya cuk, nenek mau lewat”, lalu ak….”

“lalu gimana?” Potongku yang mengulang gelagat Beno, sehingga membuatku pasrah dengan jitakan Beno ke keningku.

PLETAAAAKK !!!!

“Aw…iya…iya…sorry…sorry.. ayo Nadia lanjutkan ceritanya”

“Aa..aaa…aku tak bisa menjawab apa yang dikatakan nenek itu, aku takut melihat fisiknya, karenaĀ berbeda dari nenek-nenek yang pernah aku lihat sebelumnya, sehingga memaksaĀ aku untuk pergiĀ ke kolam, namun….”

“Ohhh… jadi gara-gara itu kamu kesal dengan aku Nad? lalu dengan enteng kamu menampar kameraku tanpa sebab? jawabku penuh kesal sambil beranjak dari tempat ku duduk.

“Heeiii Do… Kamu ni ngaku Mahasiswa tapi kelakuan kayak bocah, duduk dulu napa? si Nadia itu belum selesai menjelaskannya.” Kata Caca yang sepertinya bersengkongkol untuk memojokkan ku.

“Hei.. Ca kamu gak nyimak yang diceritain Nadia? Nadia itu ngomong nya ngawur dan mengada-ada, mana ada nenek-nenek di sekitar Riam ini, yang jelas hanya kita bersepuluh, Ingat hanya sepuluh. Catet itu !!!.

“Dasar egois !! kita juga belum selesai mendengarkan penjelasan Nadia, ini kamu udah berspekulasi duluan, ayolah do !.. mana kedewasaan mu?” Kata Apri yang berusaha menjadi pahlawan ditengah kekalutan kami.

Aku terima semua omelan mereka kepadaku, namun yang paling tak ku suka, ketika ditanya mana kedewasaan mu?

“Ini kedewasaanku, Pri !!!”

PLETAAAAAK !!!!

Bogem mentah sempurna mendarat dipelipis Apri, tentu tinjuan tersebut membuat si Apri tak tak tinggal diam, dia pun dengan segera membalas dengan tinjuan ke arah perut ku.

Sehingga terjadilah perkelahian yang sangat sulit untuk dihentikan, karena aku dan Apri memiliki tubuh yang cukup besar dibandingkan mereka bertujuh yang berperan sebagai anggota perdamaian.

Pasir pun menjadi alas yang mengasyikkan bagi pertarungan kami berdua, tenda yang bergeser tak kami perdulikan, untung saja tidak patah.

Setelah sekian lama pertarungan belum dapat ditentukan pemenangnya, akhirnya mau tidak mau membuat Sang Hakim pemecah suasana yaitu Nadia berteriak STOPPPP sambil berlari kearah kami berdua.

Aku dan Apri tak menghiraukan Nadia, entah khilaf atau kalaf yang meracuni kami berdua, kami pun tak bisa menjelaskannya pada saat itu, hanya ada satu alasan yang tepat bagi kami yaitu Emosi.

Akhirnnya kekesalan emosi membujuk Nadia untuk bergabung ke pertarungan kami, namun bukan untuk berkelahi, melainkan berusaha untuk melerai kami.

Namun nasib berkata lain…

PLEETAAAAK !

Tinjuan liarĀ pun tak dapat terelakkan bagi Nadia, sehingga membuat nya terkelungkup disebelah kami, sambil meringgis kesakitan.

Aku tak membayangkan, bagaimana seorang wanita seperti Nadia yang lembut dan cantik harus menahan bogem mentah dari seorang lelaki yang tengah tersulut Emosi.

Tangisan tersebut berhasil menghentikan pertarungan kami, lalu membuat kami semua bergegas mendekati Nadia, kecuali Aku dan Apri.

Tangisan nya semakin menjadi-jadi, ketika sorot mata Nadia melihat ke arah belakang aku dan Apri, yang pada saat itu adalah aliran sungai kecil yang kosong melompong tanpa ada sesuatu yang aneh.

Apa ituĀ ?

~BERSAMBUNG~


Berhubung ditempat ku sudah menunjukkanĀ 04:33 WIB, terpaksa aku potong dulu ya cerita nya.

Besok atau lusa kalau tak ada halangan bakalan aku lanjutin ceritanya, sambil inget-inget hal-hal apa saja yang terjadi pada saat kami berlibur di Riam Bananggar, maklumlah ceritanya kan sudah 5 bulan yang lalu, jadi rada-rada lupa heheh.

Oh iya… bagi kalian yang penasaran dengan pesonaĀ Riam bananggar melalui suatu gambar dan ingin mengetahui rute-rute perjalanannya, kalian bisa mengunjungi artikel pada profil blog dibawah :).

Atau Ā kalian bisa juga searching di google, dengan kata kunci ‘Riam Bananggar’ tanpa tanda kutip. Karena banyak juga kok blogger yang mengulas tentang Pesona Riam bananggar šŸ™‚

Oke cukup sekian terima kasih.

Sampai jumpa di kelanjutan artikelĀ Kisah Misteri Riam Melanggar Kalbar #2.

Bagikan:
19 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.