Kisah Misteri Riam Melanggar Kalbar #2

Hai kawan-kawan.. sesuai dengan janji sebelumnya, aku akan melanjutkan tulisan ku sebelumnya yaitu kisah misteri riam melanggar kalbar, mohon maaf atas keterlambatannya 🙂 .


Menyaksikan raut wajah Nadia yang penuh misteri membuat Aku dan Apri saling melepas cengkraman permusuhan, lalu masing-masing duduk terdiam penuh sesal.

“KALIAN BERDUA INI BODOH !!!, teganya kalian memukul Nadia?” Sahut Caca yang sedari tadi menenangkan Nadia.

“Aaaa.. Maaf…” Jawab Aku penuh sesal sambil memijit kedua rahangku

“Mia… tolong ambilkan kotak P3K untuk mereka berdua…”

“Iya ca…”

“Aaaaaaaaa !!!!!!!” Kembali terdengar teriakan keras Nadia sambil menunjuk ke arah kami berdua.

“Sudah…sudah….Nadia… mereka sudah minta maaf kok” Kata Caca sambil memeluk Nadia dengan membelakangi Aku dan Apri yang sedari tadi masih tertunduk lemas penuh sesal.

“Nih… obati luka kalian berdua !!” Ujar Mia dengan melempar kotak P3K ke hadapan Aku dan Apri.

Sesekali aku melihat ke arah Apri, rasa sesal sangat aku rasakan pada saat itu, namun karena perasaan Angkuh, menghambat Aku untuk meminta maaf duluan terhadap Apri.

air-terjun-riam-banangar

Karena merasa bersalah terhadap Nadia, aku pun memberanikan diri untuk mendekatinya, yang sedari tadi masih memeluk erat tubuh Caca, kulihat mata nya yang biasanya selalu ceria, sekarang terlihat berbeda, seperti kehilangan jiwa.

“Nad… Maafin Aku ya… dan maafkan kami juga karena sudah tak sengaja memukul mu…” Ucap ku sambil berusaha memegang tangannya, namun ditepisnya, dan tetap kukuh menunjuk ke arah Apri.

“Pri…. Kesini dulu !! minta maaf dulu dengan Nadia…” Kata ku kepada Apri, yang malu-malu untuk segera beranjak.

Namun.. baru saja Apri berdiri? Tiba-tiba .

“AWAAAAAS !!!!!! ” Teriak Nadia sambil menunjuk ke arah Apri. Tanpa melihat situasi sekelilingnya, Apri pun langsung terperanjat kabur ke arah depan Tenda.

“Apa….apa….?” Kata apri dengan panik, dengan mata liar yang berusaha mencari apa yang ditunjuk Nadia.

“Heheheh… Tidak apa – apa” Jawab Nadia cuek.

Jawaban tersebut spontan membuat seluruh dari kami terperangah menatap Nadia, antara kesal, bertanya-tanya, dan lucu.

Semilir angin yang tiba-tiba menyejukkan suasana, berkolaborasi dengan paduan suara jangkrik yang saling bersautan, menguatkan keyakinan kami bahwa hari tidak lagi terang.

“Ya ampun…. kita belum membuat api unggun ya, Hei Ca…. makanan kita bagaimana loh?” Ujar Beno kepada kami semua, mungkin berusaha mencairkan suasana dalam kegaduhan.

“Ya.. sudah biar aku saja yang membuat api unggunnya” Jawab Ahmadi salah satu temanku yang lumayan pendiam.

“Sssttt… Ca.. yuk kita bawa Nadia ke tenda, udah mulai gelap ni !!…” Bisikku terhadap Caca.

Aku melihat seperti ada yang Aneh di mata Nadia, aku yakin betul, perkelahian kami barusan tak berarti apa-apa dari apa yang dirasakan Nadia pada saat itu.

Akhirnya aku, caca, dan Eran menatang Nadia ke arah beranda tenda yang tak jauh dari lokasi keributan.

30 Menit Kemudian….

Setelah semua masakan siap, dengan api unggun yang bergelora ditengah lingkaran kami, mau tak mau menjadi saksi bisu akan kisah ini.

Kami pun bersama-sama menyantap masakan dengan penuh hikmat.

Tak perlu waktu lama, untuk kami menghabiskan makanan tersebut, mungkin karena kelaparan hebat yang melanda atau karena sisa emosi atas kejadian barusan.

Hening memecah suasana ditengah-tengah sunyinya riam bananggar, hanya terdengar gemuruh air yang semakin lama semakin kuat. seperti akan terjadinya air bah.

Sesekali kulihat ke arah Nadia, yang sangat sibuk dengan Hp nya yang tak bersinyal, ah mungkin Nadia mengecheck galery photonya.

Sekali lagi.. aku menunjukkan perhatianku kepada Nadia, bukan untuk mengambil hatinya, namun untuk mencari tahu, mengapa dirinya terlihat berbeda dari tadi sore?

“Nad… nad…?”

“Nad….”

“Heiii…. Nad….” Teriakku sambil melempar pemantik api yang berada didekatku kearahnya.

“Mmmmm…. apa sih do? mau marah lagi? Jawab Nadia yang tetap fokus ke Hp nya.

Aku pun tak puas dengan jawaban tersebut, lalu aku bergegas menuju ke arahnya, dengan membawa rasa ingin tahu yang luar biasa. Lalu duduk tepat didepan hadapannya.

Sontak hal tersebut, memancing perhatian kawan-kawan yang sedang sibuk dengan masing-masing hal pribadi.

“Hayyaaaaa…. ada apa lagi ini pemirsa?” Celetuk Eran, dengan wajah konyol sambil mengeluarkan setengah badan dari dalam tenda.

“Oh..iya… ayo kalian semua… kita duduk bersama, jangan ada yang sibuk dengan hal masing-masing !” Ujarku layaknya komando perang.

“Ya…. elah… palingan mau marah-marah lagi, terus berkelahi, lalu ada yang tukang damai? itukan maksud kamu do?” Jawab Roni yang mungkin masih dendam dengan ku.

“Ayolah… kawan… kalian enggak kasihan lihat Nadia? soalnya aku merasakan hal yang berbeda.” Jawabku serius sambil melihat ke arah Nadia, yang masih saja serius dengan Hp nya.

“Apri !!!! apaan sih… ganggu aja kalian berdua ini !!” Jawab Nadia yang penuh kesal karena tak disangka-sangka Apri mengambil Hp nya dari arah belakang yang gelap gulita”

“Tolong jelaskan semua yang kau alami kepada kami semua” Jawab Apri yang pada saat itu benar-benar sangat dingin dan lebih dewasa dari pada ku.

Nadia pun tak bisa membantah, karena melihat raut wajah Apri yang benar-benar sangat ingin tahu, terutama aku yang benar-benar takjub kepada Apri, karena tiba-tiba saja dia mengulurkan tangannya kepadaku untuk berjabat.

“Sorry ya… atas kejadian barusan, aku yang salah kok.” Kata Apri dengan senyum sumringah.

Kekompakan kembali bersatu dalam lingkaran hangat persaudaraan, ditemani api unggun temaram, telah membuka alur kisah cerita yang dialami Nadia.

“Oke..oke.. jika kalian ingin mengetahui atas apa yang terjadi padaku barusan, aku minta tolong kepada kalian semuanya, untuk serius mendengarkan tanpa memotong pembicaraan dan harus percaya 100 % kepadaku” Jelas Nadia kepada kami semua yang hanya termangut-mangut penasaran terhadap kisah yang akan diceritakan kepada kami semua.

“Jadi begini.. sebelum aku berada di kolam air tersebut, aku sudah cerita kepada kalian semuakan?, bahwa aku berjumpa dengan seorang nenek misterius yang mengikuti akitivitas foto-foto kita didekat riam”

“Lalu aku merasa ada yang aneh dengan perawakan nenek itu, karena tak biasanya aku melihat seorang nenek menggunakan celana jeans, berbajukan batik coklat lusuh, rambut dikepang dua ala-ala remaja, dengan keriput pada kedua pipinya, namun anehnya kening nya tak berkeriput. Nah aneh enggak tu?”

“Aku sebenarnya ingin berteriak kencang pada saat itu, tepat sebelum aku menuju kolam, namun aku sudah shock duluan melihat nenek tersebut, sehingga aku pun tak sadar berjalan mundur sampai menuju kolam.”

“Lalu dari kejauhan aku masih melihat nenek itu mengikuti kalian, lebih parahnya yang membuat aku kaget luar biasa, aku melihat secara nyata nenek tersebut menjatuhkan diri ke arah air riam, aku masih shock pada saat itu, aku tak mampu berkata-kata.”

“Sesaat aku masih berdiri dikolam, aku kembali mendengar seseorang memanggil namaku, yang sangat persis menyerupai suara Caca, dan arah suara tersebut berasal tepat dari arah belakangku, lalu aku pun menyahut suara yang kuanggap suara Caca tersebut.

“Aku berharap benar-benar Caca yang dibelakangku, namun tak ada orang ?, hanya sebuah gubuk tua yang aku lihat” Kata Nadia sambil memegang tangan Caca, lalu menunjuk ke arah gubuk yang berada tepat diatas perbukitan tenda kami.

Lalu aku berfikir, apakah semuanya ini ada kaitan nya dengan batang pohon yang sedari tadi masih berada di atas puncak air riam tersebut?

“Kenapa kamu baru cerita? giliran udah gelap gini baru mulai cerita !” jawab Ahmadi yang sudah mulai ketakutan.

“Ya gimana mau cerita lebih… kan salah satu teman kita ada yang enggak percaya !!” Ujar Nadia sambil mencibir ke arah ku.

“Oke.. oke.. aku salah, aku minta maaf.. jadi apa hubungannya dengan kameraku yang kau tampar Nad?

“Oh.. hal tersebut, karena aku kaget, karena sesudah aku membalikkan tubuh ke arah gubuk yang aku sangka suara Caca tersebut, aku melihat kembali wajah nenek tersebut berada tepat didepan mataku tanpa anggota tubuh yang lengkap.”

“Apa !!! maksudnya tanpa tubuh yang lengkap?” Celetuk Eran dengan penasaran sambil mendekatkan dirnya kedalam kelompok.

“Ya… hanya kepala tanpa tubuh…” Jawab Nadia penuh lirih.

Kami pun saling menoleh satu sama lain, berharap terang segera kembali, karena kami tak menyangka bisa terjadi hal yang seperti itu.

Mau percaya atau tidak, kami sebenarnya ingin tak percaya, namun itulah yang terjadi.

Derasnya auman Riam menambah suasana mistis pada malam itu, ditambah angin yang tak jelas arah dan tujuannya merangsang bulu halus kami untuk berdiri tegap menyangsikan malam tanpa bintang.

“Lalu apa yang kau lakukan setelah melihat nenek misterius itu Nad? Tanya Mia dengan suara kecil, berharap nenek tersebut tak mendengar apa yang kami perbincangkan.

“Ya.. aku reflek melarikan diri dengan mengitari kolam tersebut, aku sebenarnya ingin sekali berteriak, tapi entah mengapa? aku seperti dibungkam sesuatu.”

“Lalu tak lama setelah kejadian itu.. kamu Edo !!”

“Iya ????” Jawabku yang sudah terhipnotis dengan kisah misteri yang belum 100 % aku percaya.

“Kamu mendatangi aku kan?, tepat sesaat aku sedang memandang ke arah kolam atau gubuk itu?”

“Iya… Nad… lalu aku mengisengi mu dengan kamera ku !”

“Iya… benar sekali do… jujur.. aku tak sengaja menampar kamera mu, karena ketika aku melihat kamera mu, kamera mu itu persis sekali menyerupai wajah seram nenek yang tak bertubuh itu barusan.”

“APA????… terus-terus…” Jawabku yang tak tahu harus menjawab apa lagi

“Ya.. lalu aku terpaksa reflek memukul kameramu, yang menyerupai wajah nenek itu”

“Lalu ketika kamu pergi menjauh dan kamu berdiri tepat disebelah batu tunggal yang disana, kamu dengar enggak, aku memanggil kamu berkali-kali…?”

“Iya… aku dengar Nad… tapi tak aku hiraukan, karena pada saat itu aku sangat kesal terhadap mu… memang apa sih tujuan mu memanggilku?”

“Oke do..  Sebelumnya Aku minta maaf dulu karena tak sengaja menampar kameramu.

“Iya Nad….  jangan terlalu difikirkan.. Aku sudah maafkan kok. Lalu kembali kepertanyaanku, mengapa kamu memanggilku?”

“Ee..aa…. itu…. Karena aku tak mau kau celaka !!”

“HAAAAAAAAHHHHHH !!!!!! Apa ????” Teriak aku, Eran, Beno, dan Apri memecah hening, seakan tak percaya dengan ucapan Nadia yang seperti mengada-ngada.

“Maksudnya Nad ???  coba ceritain lagi dengan jelas???” Bisik Caca yang sebenarnya tak percaya, namun berusaha menghargai penjelasan Nadia.

“Begini teman-teman…..

~Bersambung~


Untuk #2 nya sampai disini dulu ya, ntar kalau ada waktu, aku sambung lagi tulisannya 🙂 .

Semoga kisah ini menghibur kalian semua.

Sampai Jumpa di Kisah Misteri Riam Melanggar Kalbar #3.

Terima kasih.

Bagikan:
6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.