Kisah Manis Di Kota Padalarang Yang Tak Terlupakan

Kali ini saya melakukan perjalanan sendiri. Bukan karena terjadi pertengkaran antara saya dan Sulung serta Khamim yang merupakan teman sesama musafir. Tapi semata-mata karena tujuannya kali ini berbeda. Simak juga kisah kami bertiga dalam Pengalaman Mengusir Hantu Penunggu Pabrik Di Kota Nganjuk.

Sambil berjalan saya mengenang masa lalu. Mengenang hubungan saya dengan seorang penari jawa klasik. Betapa kami saling mencintai tapi karena tidak berjodoh ya tetap pada akhirnya harus terpisah.

kota-padalarang
Ilustrasi panoramio.com

Sempat saya berpikir setelah mempunyai ilmu hikmah, bisa saja saya menarik mantan kekasih saya itu untuk kembali tapi itu berarti adalah suatu pemaksaan. Dan setiap ilmu pengasihan itu pasti bersifat pemaksaan walaupun itu dipakai untuk tujuan baik (dinikah) tetap saja mempunyai efek samping kelak dikemudian hari.

Sempat juga terbayang wanita wanita lain yang pernah saya cintai. Waduh banyak juga ya orang orangnya? Ya kan ada pepatah, kalau belum nikah buka mata lebar-lebar, setelah nikah tutup mata rapat-rapat 😀 .

Lagi asyik berjalan tiba tiba pandangan saya tertuju kepada seorang gadis yang lagi menuntun motornya karena bocor. Tampak gadis itu kepayahan. Saya pun menawarkan jasa untuk membantunya menuntun motor.  Alhamdulilah tawaran tersebut diterima.

Rupanya bengkel jauh juga. Sudah lebih dari 2 km tapi belum ada juga bengkel. Capek juga menuntun. Tapi karena berduaan dengan gadis manis rasa capek itu sirna juga. Yup musafir juga manusia biasa 😀

Dari pembicaraan, saya tahu gadis itu bernama Elfiah. Balutan busana muslimah nya yang sederhana plus tanpa make up makin membuatnya terlihat cantik alami.

Ya namanya ditemani gadis cantik, rasa capek pun jadi gak terasa. Eit ternyata dari kejauhan nampak bengkel. Alhamdulilah. Motor pun kemudian ditambal. Saya pun memutuskan untuk pamit. Dari sorot mata Elfiah nampak ada rasa kecewa, rupanya dia ingin berlama-lama dengan saya.  Elfiah membuka dompetnya, tapi saya tolak.

cewek-jilbab-motor-mogok
Ilustrasi gilamotor.com

Saya pun meneruskan perjalanan. Sambil kembali mengingat kenangan silam, sosok Efliah sudah menghilang berganti dengan kenangan manis lain.

Setelah sekitar 10 km saya berjalan, saya melihat sebuah masjid. Dan membaca papan masjid tersebut “MASJID BAITUL ANWAR“

Saya pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di masjid itu. Sambil kemudian meminta ijin kepada pengurus nya untuk menginap  semalam. Oh ya, kebetulan malam ini adalah malam jumat. Pak Tohar berkata bahwa setiap malam jumat ada rutin tadarusan. Saya pun bersemangat dan juga meminta ijin untuk ikut.

Selepas isya, acara tadarusan pun mulai. Mata saya kaget saat melihat Elfiah ternyata juga ikut. Elfiah memandang saya, sontak dia pun kaget dan berjalan tersipu-sipu.

Dari pak Tohar, saya baru tahu ternyata Elfiah adalah remaja masjid dan bapaknya adalah Pak Sukamto, salah satu orang kaya dan penyandang dana masjid ini.

Sebagaimana acara tadarusan, dimana dipimpin oleh seorang ustad. Kali ini ustad yang memimpin adalah ustad Sulaiman. Namun ntah mengapa ustad Sulaiman memanggil saya, meminta saya memimpin. Alhasil saya pun memimpin. Pada  saat saya membaca ayat Al qur’an banyak jamaah yang kaget. Rupanya mereka tak mengira saya mampu membaca dengan begitu indah. Saya melirik Elfiah yang juga menunjukkan ekpresi kagum.

Di akhir acara saya diajak oleh ustad Sulaiman dan pak Tohar untuk bertemu dengan seseorang. Rupanya saya dipertemukan dengan Pak Sukamto.

Berempat kami bicara sejenak di aula masjid. Rupanya pak Sukamto tertarik dengan pengalaman saya. Dia pun menawarkan diri untuk mengajak saya bermalam di rumahnya. Semula saya ragu, tapi karena ustad Sulaiman dan pak Tohar mendukung keputusan pak Sukamto maka terpaksa saya harus menerimanya. Elfiah lagi, pikir saya.

Jujur, sejak awal saya memutuskan diri menjadi musafir, itu hanya untuk mencari jati diri, bukan untuk mencari istri. Dan kini saya gak tahu rencana Allah apa yang sedang terjadi, mengapa selalu saya dan Elfiah dipertemukan. Simak juga Godaan-godaan Selama Menjalani Tirakat.

Sesampai di rumah pak Sukamto. Rumah yang besar dan mewah. Ada 2 mobil keluaran terbaru yang parkir di garasi yang terbuka. Belum lagi mobil yang dipakai pak Sukamto saat bepergian ke masjid.

Pembantu membukakan pintu, saya pun keluar bersama pak Sukamto. Saya pun menunggu di teras rumah. Dari kejauhan saya lihat Elfiah yang juga baru pulang, sekali lagi dia kaget dengan kehadiran saya.

Istri pak Sukamto yaitu Hartanti datang memperkenalkan diri. Pak sukamto yang sudah berganti pakaian juga datang. Pak Sukamto memanggil Elfiah. Sekali lagi kami bertemu dan saling bersalaman. Ada getaran aneh… apakah itu getaran cinta?

Malam ini pun menjadi malam yang panjang, karena rupanya pak Sukamto mengajak saya ngobrol semalam suntuk. Rupanya beliau sangat tertarik dengan saya.

2 hari saya menginap di rumah pak Sukamto. 2 hari saya diperlakukan bak seorang tamu agung. Sungguh pengalaman istimewa bagi saya. Pak Sukamto menawarkan kepada saya untuk tinggal di rumahnya saja, atau kalau perlu dia akan memberi saya pekerjaan agar saya betah.

Tapi permintaan itu saya tolak, karena saya adalah seorang musafir. Alhasil saya pun meninggalkan rumah pak Sukamto keesokan hari, karena permintaan pak Sukamto yang meminta untuk saya tinggal sehari lagi. Dan permintaan itu saya terima.

Menjelang senja saya berpikir, mengapa semua ini terjadi? Saya kemudian teringat mengapa saya dipertemukan dengan Elfiah, itu karena saya mengingat gadis penari jawa klasik itu. Saya kemudian beristigfar… memohon maaf kepada Allah.  Karena pencarian mencari jati diri penuh dengan godaan unsur duniawi. Dan bila kita berpikir masalah harta tahta atau pun wanita, pasti akan langsung ada channel untuk bisa mendapatkannya.

gadis-jilbab-elfiah
Ilustrasi kaskus.co.id

Kembali pak Sukamto mengajak saya ngobrol, kali ini di ruang tamu ditemani oleh Hartanti dan Elfiah. Tampak ada raut muka sedih di wajah Elfiah.

Pak Sukamto mengeluarkan sebuah amplop lalu diberikan kepada saya, tapi saya tolak. Saya hanya bilang bahwa saya adalah musafir. Pak Sukamto kemudian mengeluarkan kartu nama dan diberikan kepada saya. Dia juga berpesan bila saya melewati Padalarang untuk mampir ke rumahnya. Saya hanya mengangguk.

Keesokan harinya selepas subuh saya pun bersiap pergi ditemani oleh Pak sukamto dan Hartanti yang menemani saya sampai melewati pagar. Saya tidak melihat Elfiah, dari pandangan batin saya ,saya melihat Elfiah menangis sedih di kamarnya.

Sungguh menyedihkan, tapi saya harus pergi… untuk meneruskan perjalanan  sebagai musafir…

Semoga kisah ini menjadikan hikmah bagi pembaca dan walau ini kisah nyata, tapi ada nama dan serta beberapa kejadian yang saya samarkan. Alhamdulilah. Jangan lupa simak juga kisah saya lainnya dalam Perjalanan Wisata ke Pulau Dewata Bali Yang Tak Terlupakan. [radjc-013]

Bagikan:
10 Comments
    • Risman Aji Darmawan
    • Risman Aji Darmawan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.