Kisah Bang Ali ‘Memarahi’ Kasal

Bagi warga Jakarta, nama Ali Sadikin atau biasa disapa Bang Ali begitu melekat. Bang Ali selalu dikenang sebagai gubernur yang legendaris. Ya, di era Bang Ali, wajah Jakarta berubah, dari kota yang kumuh menjadi kota yang benar-benar metropolitan.

Gaya kepemimpinan Bang Ali juga selalu disebut-sebut sebagai kepemimpinan ideal. Maka, ketika akan tiba pesta pemilihan gubernur di ibukota, nama Bang Ali ramai disebut kembali. Warga Jakarta berharap gubernur terpilih punya sikap seperti Bang Ali. Tegas, tapi tetap manusiawi. Keras, tapi tak arogan.


Bang Ali sendiri meninggal pada 20 Mei 2008. Tapi semasa hidupnya, Bang Ali dikenal sebagai orang yang keras dan tegas. Bahkan, ada yang menyebut ‘berangasan’. Bang Ali dikabarkan pernah menabok orang yang melanggar aturan. Bang Ali juga dikenal sering mendamprat siapa saja yang dianggapnya salah atau menyeleweng.

Bahkan, sampai Bang Ali pensiun, sikap keras dan tegasnya tak luntur. Bang Ali sendiri pensiun pada tahun 1977. Adalah Bung Karno yang mengangkat Bang Ali sebaga Gubernur. Kemudian berlanjut di era Soeharto jadi Presiden. Namun Bang Ali setelah itu pensiun.

Usai tak jadi Gubernur, Bang Ali tetap jadi sosok yang keras dengan pendiriannya. Itu terbukti, ketika Bang Ali bersama dengan para tokoh nasional lainnya, seperti Jenderal AH Nasution, Bung Hatta, M Natsir, Jenderal Hoegeng Imam Santoso dan tokoh lainnya meneken sebuah petisi yang kemudian terkenal dengan nama Petisi 50. Petisi 50 ini, bisa dikatakan barisan oposan pertama terhadap rezim Orde Baru.

Para peneken Petisi 50, galak mengkritik jalannya kekuasaan Soeharto yang dianggapnya telah melenceng dari amanat UUD 1945 dan Pancasila. Mereka nyaring mengkritik Soeharto. Akibatnya, mereka, para peneken Petisi 50 oleh Soeharto dikucilkan. Hidupnya dipersulit. Mereka tak bisa pergi ke luar negeri. Di larang naik haji. Dipersulit dapat pinjaman dari bank. Bahkan sekedar menghadiri undangan pernikahan atau seminar pun dipersulit.

Tapi Bang Ali, tetap keras. Ia tak melunak. Ia tetap tak mau tunduk, meski hidupnya dipersulit oleh penguasa. Laksamana Waloejo Soegito, mantan Kepala Staf TNI-AL, merasakan betul sikap keras Bang Ali.

Saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta untuk sebuah program yang khusus mengulas sosok Bang Ali, Waloejo Soegito bercerita tentang satu kisah yang begitu membekas diingatannya. Kisah itu tentang Bang Ali. Saat itu, ia pernah ‘dimarahi’ Bang Ali. Padahal ketika itu, ia sudah jadi Kasal atau orang nomor satu di Angkatan Laut.

” Saya jadi Kasal pun, saya dimarahi. Pertama waktu beliau (Bang Ali) ikut Petisi 50, dipensiun oleh pemerintah. Itu enggak terima surat keputusan pensiun,” kata

Biasanya memang, kata Soegito, surat pensiun untuk perwira TNI-AL berbintang, diserahkan ke Kasal. Surat keputusan pensiun itu sendiri berasal dari presiden, tapi diserahkan ke TNI-AL untuk kemudian diberikan kepada perwira yang hendak pensiun.

” Saya panggil beliau-beliau yang mau pensiun. Dia datang di Gunung Sahari waktu itu markasnya (TNI-AL). Maaf saya katakan. Berani lu ngundang gue, katanya. Saya bilang saya maksudnya baik, tapi dimarahi,” tutur Soegito mengenang kembali cerita saat dia disemprot Bang Ali.

Tapi Bang Ali, kata Soegito, walau cepat marah, cepat pula redanya. Karena waktu itu, Bang Ali kemudian mengucapkan terima kasih, surat pensiunnya telah diserahkan.

” Kemudian beliau bilang terima kasih,” kata Soegito

Di mata Soegito, Bang Ali adalah sosok yang gampang menolong siapa pun. Kata dia, siapa pun yang datang ke Bang Ali untuk minta bantuan, pasti akan dibantu.

” Pasti beliau bantu,” kata Soegito mengenang seniornya itu.

Jangan lupa baca juga:

Bagikan:
7 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.