Kisah 2 Kyai Pendiri Pesantren Gontor Saat Ditawan PKI Madiun

Banyak pesantren besar dan terkenal di negeri ini. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, pesantren menjadi salah lembaga pendidikan yang banyak mewarnai kehidupan umat Islam di Indonesia. Bahkan, peran pesantren dalam sejarah terbentuknya republik sangat besar sekali. Banyak kontribusi yang diberikan para tokoh pesantren untuk negeri ini. Terutama di era menjelang dan sesudah kemerdekaan.

Salah satunya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang juga kakeknya mantan Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Peran Mbah Hasyim demikian panggilannya di kalangan nahdliyin sangat besar untuk republik ini. Syahdan, menjelang terjadinya pertempuran dahsyat di Surabaya yang terkenal dengan sebutan pertempuran 10 November, fatwa Kyai Hasyim yang kemudian menggerakan ribuan santri dan pejuang republik bertempur habis-habisan melawan tentara Inggris. Kyai Hasyim berfatwa bertempur membela Tanah Air, adalah bagian dari jihad. Siapa yang gugur, dia mati syahid.

Pendiri Gontor

Palagan 10 November 1945 itu sendiri kemudian ditetapkan sebagai hari Pahlawan. Kyai Hasyim, adalah pendiri pesantren Tebu Ireng, Jombang, salah satu pesantren besar dan berpengaruh di Jawa Timur. Pesantren lainnya yang terkenal dan besar, adalah pesantren Gontor yang ada Ponorogo Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh trio kyai yaitu KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fanani dan KH. Imam Zarkasyi. Ada sebuah cerita menarik tentang pendiri pesantren Gontor.

Dikisahkan, situasi republik tahun 1948 sesaat setelah kemerdekaan didengungkan, kian kisruh. Belanda kembali melancarkan agresi militernya yang kedua. Mereka dengan kekuatan militer penuh menyerang dan menduduki Yogyakarta. Presiden Soekarno dan wakilnya, Bung Hatta di tawan. Sementara Jenderal Soedirman menyingkir ke hutan untuk melancarkan perang gerilya.

Namun di tengah konsentrasi terpusat melawan penjajah, di Madiun, Jawa Timur, meletus sebuah peristiwa berdarah yang kelak dicatat sejarah sebagai peristiwa pemberontakan PKI Madiun. Pemberontakan itu dipimpin oleh tokoh PKI, Muso. Ketika itu usia republik baru seumur jagung. Tentu pemberontakan PKI Madiun, seperti tikaman belati yang mengujam dari belakang.

Soekarno dan Hatta tak tinggal diam. Dan, untuk memadamkan pemberontakan pemerintah saat itu memutuskan untuk menggelar operasi militer. Ribuan tentara dikerahkan. Salah satu kesatuan yang terkenal berhasil memadamkan pemberontakan PKI Muso adalah kesatuan dari Divisi Siliwangi.

Tapi sebelum Siliwangi datang menggempur, pemberontak PKI sudah terlebih dahulu menyebar teror. Mereka banyak menculik para pangreh praja, dan juga tokoh agama, terutama para kyai. Mereka menebar horor, membunuhi para tahanan yang diculiknya dengan keji. Banyak kyai yang jadi korbannya.

Sesaat sebelum Siliwangi membebaskan Madiun, masih tersisa beberapa tahanan yang belum dieksekusi. Diantara tahahan yang ditawan itu, terdapat dua kyai, yakni KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi. Dua kyai yang kelak dikenal sebagai pendiri Pesantren Gontor.

Saat malam sudah merambat, dua kyai itu berbincang. Keduanya sebenarnya sudah pasrah dan yakin bakal segera dieksekusi seperti tawanan lainnya. Sementara di sekeliling rumah yang jadi tempat tahanan, puluhan orang berjaga. Di tengah malam yang tegang, dua kyai kakak beradik itu justru berdebat keras. Keduanya berebut ‘kematian’. Kyai Sahal mengatakan, harus ada yang lolos dan hidup. Kata dia, lebih baik dia yang dieksekusi. Jadi tumbal untuk Gontor.

” Aku saja yang mati dan kamu yang harus menjalankan Gontor. Gontor tak boleh mati, ” kata Kyai Sahal pada adiknya, Kyai Zarkasyi, ketika itu.

Tapi, perkataan Kyai Sahal langsung disergah oleh Kyai Zarkasyi. Kyai Zarkasyi tak kalah ngotot dengan kakaknya. Kata dia, biar dirinya saja yang mati dan sang kakak yang melanjutkan Gontor. Mendengar itu, Kyai Sahal juga berkata tak kalah ngotot. Ia minta adiknya yang meneruskan Gontor dan dia yang jadi tumbal.

Keduanya pun berdebat tentang siapa yang duluan mati. Sampai kemudian, para penjaga tahanan tiba-tiba lari lintang pungkang. Ternyata, pasukan Siliwangi sudah menyerbu dan menguasai Kota Madiun. Kedua Kyai itu pun dibebaskan. Tak ada yang jadi tumbal. Tidak ada yang meregang nyawa. Keduanya pun akhirnya pulang ke Gontor untuk mewujudkan cita-cita besar mereka membesarkan Gontor yang ketika itu belum jadi pesantren besar.

Pesantren itu hingga kini masih berdiri. Bahkan jadi pesantren besar yang berpengaruh. Pesantren Gontor dikenal sebagai pesantren modern. Banyak kemudian santri-santrinya yang jadi orang tenar di negeri ini. KH Idham Chalid, Hidayat Nurwahid, Miftah Basyuni, Noercholis Madjid dan Emha Ainun Nadjib, adalah sederet santri jebolan Gontor yang jadi tokoh penting di republik ini.

Kisah dua kyai pendiri Gontor berebut kematian itu ditulis dalam buku,”Wisdom of Gontor,” yang ditulis Tasirun Sulaiman. Menurut buku tersebut, kisah dua kyai berebut kue kematian itu, bukan dikisahkan oleh dua kyai itu sendiri. Tapi cerita itu didapatkan dari seorang tahanan yang ketika itu ikut ditawan bersama dua kyai tersebut.

# Sumber tulisan : Buku, ” Wisdom of Gontor,” yang ditulis Tasirun Sulaiman terbitan Mizania. Jangan lupa baca juga Kisah Kakeknya Prabowo Dalam 1 Hari Kehilangan Dua Anaknya Sekaligus.

Bagikan:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.