Di Melbourne Australia, Penyebrangan Jalan Bisa Kena Denda

Ada kisah menarik yang ditulis Mas Andi Syafrani di akun Facebooknya. Kisah menarik itu tentang pengalaman dia selama berkunjung ke Melbourne. Tahu Melbourne kan? Melbourne adalah salah satu kota terbesar di Australia, selain Sidney dan Canberra tentunya ibukota negara yang terkenal dengan sebutan negeri Kanguru tersebut.

Dalam akun facebooknya Mas Andi Syafrani, pengamat politik muda di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh, berkisah tentang pengalamannya berkunjung ke Melbourne, Australia. Di sana, ada pengalaman menarik yang hingga sekarang masih diingatnya. Kisah itu tentang pengalaman dia menyebrangan jalan di Melbourne. Katanya, suatu ketika ia hendak menyebrang jalan di Melbourne. Setelah lihat lampu lalu lintas berwarna kuning, ia langsung menyebrang.

Ilustrasi penyebrang jalan (Gambar by Kompas.com)

” Kalau ingat di Melbourne, pas lampu kuning saya tetap jalan,” tulis Mas Andi di akun Facebooknya.

Tapi ternyata kata Mas Andi, jarak atau jeda lampu kuning dengan lampu merah hanya beberapa detik. Dan, ia akhirnya tahu, orang-orang di Melbourne yang hendak menyebrang itu, kalau lampu lalu lintas sudah berwarna kuning, berhenti.

” Orang-orang sana kalau sudah kuning sudah berhenti,” katanya.

Kebiasaan itu, ujarnya, merupakan bagian daripengaturan lalu lintas agar lebih tertib dan aman. Karena ketidaktahuannya itu, Mas Andi pun kena sial. Dia kena denda atau penalti, karena saat menyebrang, lampu lalu lintas tiba-tiba sudah menyala merah. Sementara dia sudah melangkah di jalur penyerangan. Baru seperempat jarak ia berjalan, lampu lalu lintas langsung menyala merah.

” Akibatnya saya kena penalti denda karena pas di tengah perempatan, lampu merah sudah menyala,” kata Mas Andi di akun Facebooknya.

Mau tahu dendanya berapa? Menurut Mas Andi, dendanya lumayan lebih dari 100 dollar. Ya, kalau dirupiahkan tinggal dikalikan saja 1 dollar itu berapa rupiah sekarang. Kalau 1 dollar itu nilainya sekarang Rp. 10 ribu, artinya denda yang harus dibayar 1 juta. Padahal menurut Mas Andi, dendanya lebih dari 100 dollar. Wow, denda yang fantastis. Dan di sana, di Melbourne maksudnya, bayar denda ya ke bank. Tidak bisa kongkalikong, misal cari jalan damai dengan petugas kepolisian yang atur lalu lintas.
” Lumayan dendanya lebih dari $100,” ujar Mas Andi di akun facebooknya.

Nah, kata Mas Andi lagi bagi warga Indonesia yang kebetulan sedang berkunjung ke Melbourne, jika mau menyebrang harus tahu aturan itu. Jika sudah lampu lalu lintas sudah berwarn kuning, baiknya berhenti saja. Jangan menyebrang. Daripada nanti kena penalti denda seperti yang dialaminya. Dan nilai dendanya pun tak main-main. Bila dirupiahkan bisa bikin dompet bolong.

” Daripada kena denda, sebaiknya pas lampu sudah kuning sudah berhenti. Ini bisa membuat situasi lebih tertib dan aman,” kata dia.

Bagaimana dengan Indonesia? Ah, tak usah dibicarakan lagi. Budaya berlalu lintas di Indonesia, mungkin salah satu yang terburuk di dunia. Bahkan ada seorang peneliti asing yang mengatakan, lalu lintas di Jakarta seperti rimba raya. Di Indonesia, saling serobot jalur, bukan hal yang aneh.

Apalagi nyerobot lampu merah, itu pun sudah jadi hal yang lumrah. Di Jakarta misalnya, para pejalan kaki pun tak aman, walau sudah berjalan di trotoar jalan. Sebab, trotoar jalan pun sering diserobot pengendara, terutama pengendar motor. Saya tak tahu, apakah aturan di Melbourne seperti yang dituturkan Mas Andi, bisa diterapkan di Indonesia. Mungkin bisa kalau ada kemauan. Walau itu memerlukan waktu yang lama.

Dan, tak hanya pengendara motor yang biasa melakukan pelanggaran. Di Indonesia, supir angkutan umum pun tak kalah buruknya. Terutama di Jakarta. Ngetem sembarang tempat. Menaik turunkan penumpang semaunya. Dan yang paling ngeri, demi kejar setoran, mereka kerap ugal-ugalan.

Ya, di sini, di Indonesia, terutama di Jakarta, ada juga sanksi denda yang tinggi bagi pelanggar lalu lintas. Kita tentu masih ingat, sanksi denda sebesar Rp 500 ribu bagi pengendara yang masuk jalur bus Transjakarta. Awal-awal pemberlakukannya, memang jalur bus Transjakarta bersih. Tapi lihat sekarang, kembali aturan dilanggar. Para pengendara tak peduli, kembali menyesaki jalur bus Transjakarta yang harusnya steril. Jadi di Indonesia, penegakan aturan hangat-hangat tahi ayam. Hanya dipatuhi sesaat saja, setelah itu kembali melanggar. Sungguh menyebalkan.

Jangan lupa simak juga Peraturan Aneh bin Nyeleneh Soal Handphone di India.

Bagikan:
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.