Benarkah Bulan Suro Bulan Keramat?

Benarkah Bulan Suro Bulan Keramat?.

Waduh, saya ingin mencoba mengulas seputar bulan Suro/sura. Karena bulan suro kembali datang menyapa kita sebagai orang Jawa (saya sih, Jika Anda berbeda maaf), . Sebenarnya apa sih makna suro itu?. Saya ingin mengulasnya dari sisi ilmu pengetahuan dan logika berfikir.

Kalau Anda Ingin melihat bulan suro versi mistisnya silahkan baca Menyingkap Misteri Kehidupan Alam Gaib Di Bulan Suro.

Mari kita coba belajar bersama, kalau ga mau ya silahkan And baca artikel lain saja..hehe

Cekidot !

Dalam bahasa jawa, SURO memiliki arti Keberanian, jadi ejawantah dari ‘Wulan Suro’ adalah bulan keberanian. Mari kita artikan dalam kalimat panjang sesuai dengan falsafat penuh makna  orang-orang Jawa “Bahwa dalam diri manusia sudah tersimpan benih-benih sifat keberanian, terkadang sifat ini bermakna positif dan negatif. Ketika sifat berani lepas dari kendali, maka seseorang bisa terpengaruh melakukan kejahatan, kesewenang-wenangan dan angkara murka”.

Asyuro, bias juga di artikan sebagai bulan 10, yang diambil dari tanggal 10 bulan muharam. Kedua makna baik keberanian dan bulan ke 10 memiliki falsafah dalam.

Nah lho, bulan suro itu bulan kejawen yang memiliki makna keberanian sekaligus merujukpada bulan kesepuluh muharam. Jika kita lebih dalami, dan mencoba belajar dari banyak cerita. maka ada beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik. Sebelum membahasnya, saya ingin mengajak Anda untuk menyimak sedikit ulasan logika dari saya.

Ini semua adalah tentang kisah bulan suro :

Pertama : Bulan suro bertepatan dengan awal bulan muharam di tahun hijriah islam. Dimana memiliki sejarah dan kisah mengejutkan. Berikut sedikit saya rangkumkan untuk Anda,
di bulan ini Allah menciptakan alam, langit, bintang & sebagainya, Allah menciptakan gunung-gunung pada 10 Muharram, Diciptakan lautan pada 10 Muharram, Diciptakan Qalam (pena untuk menulis amal manusia pada 10 Muharram, Diciptakan Arasy, Lauhul Mahfuz pada 10 Muharram, Diciptakan Nabi Adam as pada 10 Muharram, Dimasukkannya Nabi Adam as ke dalam surga pada 10 Muharram, Dilahirkannya Nabi Ibrahim as pada 10 Muharram, Diselamatkannya Nabi Ibrahim as dari api Namrudz pada 10 Muharram, Diselamatkannya Nabi Ismail as dari penyembelihan pada 10 Muharram, Ditenggelamkannya Fir’aun pada 10 Muharram, Diampunkan kekhilafan Nabi Daud as pada 10 Muharram, Dilahirkannya Nabi Isa as pada 10 Muharram, Dikeluarkannya Nabi Yunus as dari perut ikan Nun setelah berada didalamnya selama 40 hari 40 malam pada 10 muharram, Disembuhkan penyakit Nabi Ayyub as pada 10 Muharram, Diangkatnya Nabi Isa as ke langit pada 10 muharram, Diterimanya taubat nabi Adam as pada 10 muharram, Diberikan tahta kerajaan kepada Nabi Sulaiman as pada bulan Muharram, Awal-awal Hujan yang turun dari langit pada 10 Muharram, Awal-awal rahmat Allah diturunkan pada 10 Muharram, Diselamatkannya perahu Nabi Nuh as dari tenggelam sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan pada 10 Muharram, Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as pada bulan Muharram, Diangkatnya kelangit Nabi Idris as pada 10 Muharram, Dibebaskannya Nabi Yusuf as dari penjara pada bulan Muharram, Dipulihkannya penglihatan Nabi Ya’qub as dari kebutaan oleh Allah pada
bulan Muharram, Laut merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa as dan pengikutnya pada bulan Muharram, Allah SWT menciptakan Malaikat Jibril pada bulan Muharram.

Waduh Panjang, males sebenarnya saya nulisnya..hehe

Kedua :  Bulan suro adalah bulan yang di anggap keramat, sehingga saya sebagai orang jawa tidak boleh melakukan hajatan/kegiatan besar. Terutama kegiatan yang menyangkut urusan perut dan pribadi.

Ulasanya hanya dua, tapi panjang, hehe

Dari sedikit ulasan tersebut saya menjadi berkesimpulan bahwa, bulan suro adalah bulan yang penuh dengan makna, baik oleh orang islam secara universal atau bagi para masyarakat Jawa secara lebih khusus. Rasa segan akan kedalaman makna bulan suro/muharam menjadikan masyarakat Jawa menghormatinya dengan penuh rasa penghargaan yang dalam.

Rasa Penghormatan akan makna di wariskan Turun temurun melewati dialektika zaman. Rasa penghormatan yang disampaikan dari mulut kemulut sebagai nsebuah cerita khas warisan lisan leluhur Jawa. Rasa segan dan penghormatan itu menjadikan bulan suro di sakralkan, bukan sakral dalam pengertian dangkal, namun sakral dalam resapan makna filosofi terdalam.

Kita dapat mengambil contoh dari satu tradisi dari banyak tradisi yang ada di Jawa, setiap bulan suro, masyarakat Jawa selalu membuat bubur ketan yang berwarna merah dan putih. Merah mewakili sifat keberanian dalam makna suro, sementara bubur putih mencerminkan kesucian dan anugrah pencipta di bulan muharam.

Kenapa bulan suro itu di anggap mistis, sakral dan lain-lain. Ini di karenakan pengormatan akan makna dan sejarah yang ada. Karena banyak sekali kejadian besar dalam sejarah di bulan ini, baik kejadian positif atau negatif. Kesakralan Makna dan Filosofi menurutku, bukan hanya sebatas mistis dan sakral dalam arti yang dangkal.

Semoga Bermanfaat.

Bagikan:
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.