Belajar Dari Pak Ibrahim Pengusaha Tambal Ban

Kali ini saya ingin mengenang Ibrahim , teman saya di bangku sekolah yang sukses dengan usaha tambal ban nya namun kini telah tiada

Di kota Jogjakarta waktu saya remaja ada 3 sekolah swasta yang favorit serta prestisius . Yaitu SMU Muhammadiyah 1 , De brito (khusus lelaki) dan stella duce (khusus perempuan). Kebetulan saya sekolah di Muhammadiyah 1 (Muhi) .

Ibrahim . adalah teman saya sekolah . Dia termasuk anak yang cerdas . Saat lulus sekolah dia memutuskan untuk tidak kuliah ? Mengapa ? Karena dia ingin membuka usaha saja .

tambalban

Sempat terjadi perdebatan panjang antara ortunya dan Ibrahim . Singkat kata ortunya akhirnya mengalah dan bersedia memberikan uang yang sedianya dipakai uang gedung sebagai modal . Usaha apa yang ingin dibukanya ? Usaha tambal ban . Ortu Ibrahim tambah kaget .

Tapi Ibrahim memang dikenal sangat kreatif . Dia mengajak 5 orang teman maennya untuk membuka usaha dengan bantual modalnya . Dia memberikan kompresor dan alat untuk menambal sebagai modal awal . Waktu itu sekali nambal hanya 1500 . Temannya itu hanya diwajibkan membayar 3000/hari . Oh ya harga kompresor waktu itu masih berkisar 100rb rupiah .

Usaha tambal ban Ibrahim pun dibuka dan langsung buka 5 cabang . Sehari dari usaha cabangnya , Ibrahim memetik pendapatan pasti sebesar 3000×5 = 15rb . Sebulan Ibrahim mendapat 30x15rb = 450000 . Sudah mendekati break even . Sementara dari usahanya sendiri , Ibrahim juga memetik keuntungan dengan rata rata ada 5 orang yang menambal serta puluhan yang hanya mengisi angin ban .

2 bulan berlalu dan Ibrahim sudah break even . Tinggal meraup keuntungan . Uang hasil keuntungannya tidak disimpan tapi diputar lagi dengan membuat 5 cabang lagi . Jadi Ibrahim kini sudah mempunyai 10 cabang usaha tambal ban .
Lama tidak bertemu Ibrahim karena saya pindah ke Jakarta . Dari teman yang mengenal Ibrahim ., ditahun 2008 , Ibrahim telah mempunyai link 125 usaha tambal ban yang tersebar di jogja dan jawa tengah .

Sistem Ibrahim sangatlah simple . Dia memberikan bantuan modal , sampai ongkos untuk membeli alat alat tambal ban lunas . Lalu Ibrahim membebaskan apakah tetap mau setor 3000 perhari atau tidak . Aneh bin ajaib , 95 % temannya mau tetap memberikan 3000/hari . Mungkin sebagai tanda terima kasih karena telah memberikan lapangan pekerjaan . Banyak temannya yang semula hanya usaha tambal ban kemudian meningkat menjadi bengkel motor .

Saat Ibrahim meninggal di tahun 2013 , alhamdulilah saya bisa takziah . Dia meninggalkan seorang istri dan satu anak . Teman temannya tetap sepakat untuk tetap menyetorkan pembagian keuntungan . Ada yang 3000/hari , ada yang 5000/rb ada pula yang 10rb/hari tergantung tahun usahanya .

Istri Ibrahim nampak berkaca kaca mendengarnya . Alasan mereka adalah untuk membantu anak Ibrahim yang masih berusia 8 tahun . Bayangkan saja misalkan dirata rata 3000x 175 = 525 rb/hari . Itu bila dihitung 3000/hari . Padahal ada yang 5000 rb /hari dan 10rb/hari .

Akhir cerita , saya yakin masih banyak Ibrahim Ibrahim lain di Indonesia ini . Yang 100 persen menolong orang tanpa pamrih . Mengangkat orang yang semula nganggur menjadi mempunyai usaha . Semoga saya dan pembaca dapat belajar dari kisah Ibrahim ini .

Bagikan:
6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.