2 Pendaki Gunung Welirang Hilang Berhasil Ditemukan (hanya minum sebotol air mineral)

Dua orang pendaki Gunung Welirang yang merupakan anggota dari tim Penjelajah Alam Surabaya (PAS) yang diberitakan hilang karena tersesat selama 3 hari di Gunung Welirang (sejak hari jum’at 1 januari 2016), akhirnya berhasil ditemukan dengan selamat pada hari senin 4 januari 2016.

Kabar hilangnya dua orang anggota tim pecinta alam ini sempat membuat sejumlah relawan rescue ketir-ketir untuk melakukan pencarian karena lebatnya hujan dan tebalnya kabut yang menyelimuti gunung. Baca juga berita sebelumnya tentang Dua Orang Pendaki Gunung Welirang Dilaporkan Hilang di Hutan Krapyak.

pendaki-gunung-welirang
Dua pendaki gunung welirang yang hilang (dua di tengah) bersama Kapolsek Pacet (kiri) dan seorang anggota tim relawan (foto: realita.co)

Dua pendaki yang bernama Dendi Wicaksono (29 tahun) asal Karamenjangan Surabaya dari PAS, serta Moh. Aniq Rofinus Sa’ni alias Aniq (27 tahun) Mahasiswa Antropologi Unair asal Sukoanyar, Kediri,  berhasil turun gunung dalam keadaan selamat pada hari Senin (04/01/2016).

Kedua pendaki tersebut turun gunung pada sekitar pukul 06.30 WIB dengan dijemput oleh mobil patroli milik Polsek Pacet dan menuju Puskesmas setempat untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Karena selama empat hari kedua pendaki tersebut tidak membawa bekal makanan untuk hidup saat berada di pendakian.

Menurut informasi yang dihimpun Realita.co, Moh. Aniq Rofinus Sa’ni menceritakan kabar terkait dirinya yang tersesat di Gunung Welirang yang mana memiliki ketinggian pada 3156 meter di atas permukaan laut. Menurut Aniq, ia membantah jika tersesat saat dalam pendakian. Tetapi hanya karena terjebak hujan, kabut dan berusaha menghindari cuaca yang ekstrim.

“Sebenarnya awal muncul keinginan untuk mendaki dari teman-teman saya. Apalagi teman saya banyak anak-anak yang biasa mendaki. Saya mulai mendaki pada tanggal 31 Desember,” kata Aniq saat ditemui di Mapolsek Pacet.

Aniq yang bersama Dendi turun dari dari Gunung Welirang mengaku bahwa keadaan dirinya baik-baik saja pada saat turun dari pendakian. “Sebenarnya saya mendaki juga ingin untuk membersihkan makam Krapyak Pacet, karena kondisinya kotor,” imbuh Dendi Wicaksono

Dendi bersama rombongan dari tim PAS Surabaya dan rombongan dari Mahasiswa Antropologi UNAIR berangkat menuju daerah Pacet Mojokerto. Mereka berangkat bersama kelompok-kelompok kecil. Setelah itu kedua kelompok tersebut mendirikan kemah di Putuk Puyang, tepatnya di atas Makam Krapyak, Pacet, Mojokerto.

Pada tanggal 1 Januari 2016 sekitar pukul 10.00 WIB Moh. Aniq Rofinus Sa’ni yang biasa dipanggil Aniq (Survivor) PAS dari rombongan Antropologi pamit untuk naik ke Puncak Welirang. “Sekitar pukul 13.00 WIB, saya memisahkan diri dari tempat berkemah di Putuk Puyang, untuk memutuskan naik ke puncak dan bertemu Aniq,” tambah Dendi.

Karena mereka kehilangan kontak, maka sejumlah rekan Dendi sempat kebingungan sehingga terpaksa melapor ke Polsek Pacet pada tanggal 1 Januari sekira pukul 24.00 WIB. “Sebenarnya kami tidak terjebak atau tersesat saat mendaki, hanya saja kami kehabisan baterai dan sinyal tidak ada, apalagi cuaca hujan dan berkabut. Kami berdua hanya berteduh dan mencari tempat persinggahan,” sebutnya.

Ketika menerima laporan dari rekan-rekan Dendi tersebut maka sejumlah petugas dari Polsek Pacet, Koramil, Perhutani serta relawan segera bergegas untuk melakukan pencarian. Karena cuara hujan dan kabut mulai turun maka sejumlah petugas menghentikan proses pencarian sementara dan akan melanjutkannya pada keesokan harinya.

Sementara itu dari tim PAS membantah jika salah satu personilnya ada yang hilang pada saat pendakian. “Dendi sempat bbm saya sekitar pukul 10.00 WIB, kemungkinan ada sinyal jadi dia bisa komunikasi dengan saya. Saat itu posisi saya berada di Surabaya. Kemudian saya hubungi rekan-rekan untuk menuju Mojokerto,” kata Tiyo, rekan Dendi di PAS yang menemaninya di Polsek Pacet.

Tiyo sendiri menyesalkan kabar yang beredar di media sosial maupun di koran jika personil PAS ada yang hilang atau tersesat. “Tanggal 2 Januari pukul 15.45, Dendi bbm saya bahwa dia masih terjebak hujan dan batery hand phonenya mau drop. Jadi, saya tetap tenang karena kondisi Dendi baik-baik saja,” kata pria yang juga berprofesi sebagai pengusaha sablon di kawasan Jambangan, Surabaya tersebut.

Kapolsek Pacet AKP Didik Budi Hariyono menerangkan bahwa kedua pendaki tersebut sudah turun gunung dengan keadaan sehat. Menurut Didik, kedua pendaki tersebut dijemput dari Krapyak dengan menggunakan mobil patroli dan kemudian dibawa ke Puskesmas Pacet. “Keduanya kita mintakan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas, kondisinya sangat bagus dan saat ini kedua pendaki di Polsek masih menunggu rekan-rekannya dari Surabaya yang menjemput,” terang mantan Kasubbag Dalops Polres Mojokerto tersebut.

Sementara itu Didik Soedarsono yang merupakan anggota relawan PMI Kabupaten Mojokerto menambahkan bahwa pihaknya sudah mengontak tim SAR dari Surabaya jika kedua pendaki yang dikabarkan hilang tersebut sudah turun. “Sebenarnya tadi pagi tim SAR sudah perjalanan ke Mojokerto untuk membantu pencarian. Namun, dua pendaki sudah turun sendiri, ya kami langsung menghubungi SAR, dan tim SAR langsung balik kanan ke Surabaya lagi,” terang Didik.

Hanya minum air mineral selama 3 hari

Sementara itu, Hadi Suwarno yang merupakan anggota relawan dari Welirang Comunity menjelaskan bahwa kedua orang pendaki tersebut melakukan potong kompas jalan dan pada waktu kembali karena jalan yang dibuat sudah hilang.

“Dia cukup kuat mas bertahan 2 hari 3 malam dengan 1 botol air mineral,” terang Hadi.

Sebelumnya dikabarkan bahwa ada 2 orang pendaki gunung yang hilang di Gunung Welirang yang mana mereka terpisah dari rombongan dan tersesat di sekitar hutan Krapyak, Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Mojokerto. (from: realita.co & surabayanews.co.id)

Bagikan:
5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.