Topik ini mengandung 9 balasan, memiliki 5 suara, dan terakhir diperbarui oleh  ahmad08 1 bulan, 1 minggu yang lalu.

  • Penulis
    Tulisan-tulisan
  • #29718

    Selamat siang. Sambil nunggu mba Indri aktif lagi saya mau share info2 ringan di forum ini. Yuk yang mau diskusi silakan merapat… Info kali ini didasarkan pada opini saya sendiri yang sebetulnya sudah saya buat dalam bentuk artikel untuk blog ini tepat di hari terakhir mba Indri nge-publish artikel, jadi mungkin artikel saya masih nyangkut di mejanya mba Indri.

    Informasi ini berkaitan dengan situs/blog yang membahas gadget baik itu secara khusus atau pun menjadi salah satu topik yg dibahas dalam blog tersebut.

    Ada sebuah kebiasaan di kalangan penulis blog gadget di Indonesia yang menurut saya perlu diubah. Kebiasaan apa? Kebiasaan dalam menulis artikel berita tentang gadget dan tahukah Anda, sebagian besar dari kita melakukannya, entah sadar atau tidak.

    Mungkin selama ini kita menganggap bahwa artikel berita sama saja dengan artikel-artikel lainnya, sehingga dalam penulisan pun tidak ada bedanya dengan artikel pada umumnya. Padahal tidaklah demikian.

    Jika kita menulis artikel non-berita yang biasanya muncul di blog2 pribadi, maka si penulis dapat memposisikan diri sebagai subjek, artinya dia boleh menyampaikan pendapat, mengeluarkan klaim, menilai, mengulas dan lain sebagainya.

    Berbeda dengan artikel berita, si penulis tidak boleh memposisikan diri sebagai subjek. Tugas dia hanya menyampaikan informasi yang didapatnya dari berbagai macam sumber termasuk langsung dari narasumber TANPA DITAMBAH dan DIKURANGI. Lalu apa dan siapa subjek nya? Sesuai dengan definisi dari KBBI, subjek adalah pokok pembicaraan, pokok bahasan, orang, tempat, atau benda yang diamati/dibahas. Jadi si penulis tidak punya porsi di sini.

    Perbedaannya sangat jelas bukan? Artinya apa? Setiap pemberitaan yang dibuat haruslah memenuhi unsur objektivitas. Itu sebabnya, sebuah konten berita mau ditulis oleh siapapun makna yang terkandung haruslah tetap sama jika diambil dari sumber yang sama.

    Misalnya, Si A dan si B menulis konten berita dengan sumber yang sama persis karena mereka berada di satu tempat ketika meliput berita tersebut. Berita yang mereka tulis adalah tentang “Ahok Resmi Dijadikan Tersangka”, maka meskipun gaya penulisan mereka berbeda, tetapi makna yang terkandung di tulisan si A dan si B haruslah sama.

    Bayangkan jika penulis berita diberi kemampuan untuk menyampaikan opini, menyampaikan pendapat, menilai dan lain sebagainya. Bisa kacau nantinya, berita yang sama akan memiliki makna berbeda jika ditulis oleh orang yg berbeda.

    Bias jadinya, ujung2nya pembaca meyimpulkan bahwa berita ini sudah “dipelintir” alias tidak lagi asli sesuai dengan sumber, meskipun kata tersebut merujuk pada perbuatan yang disengaja, tetapi itulah yang akan terjadi jika si penulis mencoba mengambil porsi dalam sebuah pemberitaan. Ini sebenarnya masih menjadi problematika juga dalam dunia jurnalistik. Contoh, reporter wanita dan reporter pria pasti akan berbeda dalam hal penyampaian ketika mereka meliput peristiwa penggusuran. Panjang pokoknya kalau mau bahas bagian yang ini. Tapi intinya seperti itu.

    Mengenai kalim, klaim ataupun pernyataan haruslah berasal dari pihak lain, dalam hal ini bisa berasal dari narasumber ataupun sumber.

    Prinsip di atas haruslah diterapkan pada setiap pemberitaan, baik itu pemberitaan tentang teknologi, sains, politik, termasuk pemberitaan tentang gadget. Fakta di lapangan, banyak penggunaan kata-kata yang tidak perlu, kata-kata yang dipaksakan hanya untuk memenuhi target jumlah kata (kalian pasti ngerti sebagai blogger). Sayangnya, hal-hal semacam itu justru berpotensi membuat pemberitaan tidak lagi objektif, tetapi subjektif.

    CONTOH:

    “Ponsel A baru saja dirilis dengan mengusung layar IPS LCD 5 inci dengan resolusi Full HD 1080p yang tentunya akan memanjakan mata Anda dengan kualitas layar yang sempurna. Di sektor dapur pacu, ponsel ini dibekali chipset Snapdragon xxx dengan CPU octa-core 2,5 GHz sehingga dijamin mampu menjalankan berbagai macam game 3D terkini. Dengan performa yang super gahar, ponsel A ini hanya dibanderol dengan harga Rp3 Jutaan. Tak hanya itu, dalam hal fotografi, ponsel A ini dibekali kamera belakang 13 MP yang mampu menghasilkan gambar dengan kualitas terbaik. Di bagian depan, ada kamera selfie 5 MP sehingga Anda tidak akan kehilangan momen indah begitu saja, karena baik lensa maupun fitur yang melengkapinya mampu memberikan hasil foto terbaik dan berkualitas.

    Tulisan di atas benar-benar saya temukan di beberapa situs/blog gadget loh, artinya saya tidak ngarang dan mari kita bahas:

    Kata dicetak tebal adalah virus yang menurut saya harus segera dihilangkan ketika Anda menulis berita tentang gadget. Saya tidak akan menyangkal bahwa di masa lalu mungkin saya pun melakukan hal yang sama, tetapi saya mengucap syukur ketika tahu kenyataannya bahwa hal itu tidak benar. Jika Anda masih ingin menulisnya dengan cara seperti itu silakan, saya tidak akan memaksa Anda untuk mengubahnya karena memang mengubah kebiasaan bukanlah perkara mudah.

    APA YANG SALAH?
    Selain melanggar prinsip-prinsip penulisan berita yang saya jelaskan di atas, gaya penulisan seperti itu mendandakan bahwa Anda belum bisa membedakan antara “memberitakan” dan “mengiklankan”.

    Ingat, penulis berita bukanlah SPG sehingga Anda tidak perlu membual, menulis hal-hal yang tidak perlu hanya untuk mengejar target jumlah kata. Anda tidak perlu menulis hal-hal yang sifatnya mempromosikan, mendorong orang untuk membeli. Itulah yang menjadikan pemberitaan tidak lagi objektif melainkan subjektif.

    Dengan sumber berita yang sama, si A bisa saja mengatakan bahwa spesifikasi layar seperti itu terbilang jelek, sedangkan menurut si B layar tersebut sudah bagus sehingga akan mampu menghasilkan kualitas gambar yang jernih. Itu semua adalah opini alias pendapat yang sifatnya relatif.

    Selain itu, teks berwarna tulisan tebal di atas berisi informasi yang belum tentu benar. Apakah Anda benar-benar dapat menjamin bahwa ponsel A di atas memiliki kualitas kamera terbaik? Mampu menjalankan berbagai macam game 3D terkini? Lagi-lagi ini sifatnya relatif dan saya yakin kalimat-kalimat demikian ditulis tanpa melalui observasi, lah wong tujuannya hanya untuk keperluan SEO!

    Itulah klo menurut saya, tidak semua blogger bisa menjadi penulis berita yang baik. Menulis itu memang makanan sehari-hari para blogger, tapi jangan anggap mudah ketika kalian harus menulis konten berita. Selain piramida terbalik dan 5W1H, masih banyak teknik-teknik penulisan berita yang baik dan benar yang harus kalian pelajari sesuai dengan kaidah jurnalistik.

    Tapi gaya penulisan saya memang seperti itu, apakah salah? Lagian saya tidak mau dipusingkan dengan aturan-aturan seperti itu! Jadi terserah saya! Oh maaf, tulisan yang Anda buat bukan hanya untuk konsumsi pribadi kan? Tulisan Anda berupa konten berita dan disebarkan untuk dikonsumsi oleh publik kan? Jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka, Anda harus mengikuti aturan yang ada.

    Saya temukan fakta ini setelah cukup lama membandingkan antara situs-situs teknologi dan gadget luar seperti GSMArena, Engadget, AndroidAuthority dengan situs-situs gadget di Indonesia. Faktanya, penulis di kita sudah terbiasa dengan “gaya” penulisan seperti itu. Seorang penulis berawal dari pembaca, jika kita suguhkan para pembaca dengan tulisan seperti itu, dapat dipastikan penulis-penulis generasi berikutnya akan mengikuti gaya penulisan yang sama.

    Silakan kunjungi situs-situs teknologi dari luar yang Anda percayai. Mereka selalu to the point, menulis berita apa adanya tanpa dilebih-lebihkan, tidak banyak basa-basi dan khusus konten berita, tidak ada unsur promosi di dalamnya. Nah, sekarang kita menulis berita seperti itu maksudnya apa? Kan seolah-olah kita ini dibayar oleh produk yang kita beritakan. Disponsori tidak, menerima pemasukan pun tidak dari produk yang kita puji-puji. Kan membingungkan sekaligus lucu kalau dipikir-pikir. Lagi pula, yang namanya konten berita itu tidak bisa dipesan oleh pihak manapun untuk tetap menjaga objektivitasnya.

    Jadi, tinggalkan kebiasaan menulis seperti itu. Tulislah berita seperti apa adanya, efisien, objektif, informatif dan hindari kata-kata yang tidak perlu. Semoga opini ini bermanfaat dan jika ada yang berbeda pandangan silakan disampaikan.

    Saya bukan menggurui, saya hanya mengingatkan dan mengajak kalian untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurut saya salah, jika menurut kalian itu benar ya silakan dipertahankan.

    Terakhir, bedakan antara artikel berita dengan artikel review. Karena dunia gadget biasanya berhubungan dengan jenis konten seperti ini. Khusus konten review, penulis dapat memposisikan diri sebagai subjek utama, artinya dialah yang mengulas dan menilai produk tersebut. Dia pun bebas menyampaikan pendapat karena biasanya artikel review tetap menyertakan kekurangan dan kelebihan produk yang direview sehingga tetap memenuhi unsur objektivitas.

  • #29721

    Kang Nata
    Participant

    Tulisan Mas Anggi betul – betul berbobot dan bermutu membuat saya bertambah wawasan tentang cara penulisan artikel berita.

  • #29723

    Anton
    Participant

    Kalau boleh saran.. saya tidak akan berpanjang lebar saja om. Karena saya ga punya blog berita dan ga pernah niat bikin, cuma usil saya terusik baca tulisan yang “memvonis” seperti di atas.

    Kalau saya si empunya blog berita, maka saya akan tanyakan beberapa pertanyaan berikut pada om.

    1. Om tahu yang namanya Citizen Journalism / Jurnalisme Warga nggak?
    2. Kira-kira kaidah jurnalistik mana yang dilanggar dengan melakukan hal tersebut? Bisa sebutkan
    3. Apakah media atau kantor berita tidak boleh “subyektif”? Apakah om mengerti tentang mengapa media massa ditakuti sebagai pilar keempat demokrasi?
    4. Apakah blog tidak dibaca publik sampai om menekankan bahwa tulisan berita dibaca oleh publik? Apa bedanya sampai ditekankan?
    5. Pernah baca ulasan di detik, kompas atau hal lain terutama yang berkaitan dengan wisata, otomotif dan barang konsumer lainnya? Apakah mereka bebas dari unsur-unsur seperti yang om sebutkan?
    6. Apakah Anda punya pengalaman jurnalistik sehingga bisa memisahkan mana yang boleh atau tidak? Lalu aturan jurnalistik mana yang dilanggar kalau cara tersebut dilakukan?
    7. Tahukah om bahwa banyak media massa di dunia meniru gaya blogger saat memberitakan?

    Silakan renungkan lagi om… apakah memang Anda memiliki kemampuan untuk memvonis tulisan orang lain dari sisi jurnalistik dengan pengetahuan jurnalistik yang Anda miliki?

    Itu kalau saya punya blog berita. Untungnya saya nggak punya. Jadi pertanyaan itu tidak saya ajukan kepada Anda.

    Saran saya. Apa yang orang lain lakukan, biarlah mereka melakukannya. Toh mereka melakukannya di blog mereka sendiri. Kalau saja tulisan ini ada di blog Anda, saya tidak akan komentar. Sayangnya tulisan ini hadir di tempat publik dan bukan blog Anda, jadi sah untuk direspon seperti di atas.

  • #29738

    Mantap, dari dulu kita memang selalu berbeda pendapat pak Anton :), jadi pertama-tama saya mau mohon maaf dulu, jangan sampai perbedaan pendapat ini mempengaruhi hubungan kita sebagai sesama anggota di forum tercinta ini. Dari awal saya tekankan bahwa tulisan itu didasarkan pada opini dan pemahaman saya, jadi silakan jika ada yang berbeda pandangan atau opini. Forum ini saya setarakan dengan kompasiana, di mana orang-orang bebas untuk berpendapat dan menyampaikan pandangannya. Dalam prosesnya, ada yang mereka katakan salah dan ada yang mereka katakan benar.

    Sampai sekarang saya tidak mengerti apa makna dari “memvonis” dalam sebuah forum diskusi. Saya lebih setuju menyebutnya sebagai “sikap”, di mana setiap orang memiliki sikap yang berbeda ketika dihadapkan pada suatu persoalan. Menurut saya itu salah, maka bisa saja menurut orang lain itu benar.

    Oh ya, secara profesi, saya bukan seorang jurnalis pak, tapi saya ikut menjalankan praktik jurnalistik, jadi prinsip-prinsip jurnalistik yang saya tulis di atas didasarkan pada pemahaman saya sendiri mengenai objektivitas dalam sebuah pemberitaan. Sebetulnya yang saya bahas tidak terlalu rumit, karena pemahaman saya tentang ilmu jurnalistik juga sangat terbatas. Saya hanya menekankan objektivitas dalam pemberitaan, itu saja.

    Apa itu objektif? Sesuatu yang sesuai dengan keadaan sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Dan kalau kita cermati dari contoh tulisan di atas, saya kira sudah jelas apa yang keliru. Ini keliru menurut saya loh karena tidak sesuai dengan pedoman yang ada, jadi silakan jika mas Anton punya pandangan yg berbeda.

    Ini sudah memenuhi tuntutan kode etik jurnalistik yang mengatakan bahwa pemberitaan yang dibuat haruslah, faktual, akurat, berimbang serta tidak mencampukan fakta dan opini.

    Sumber:
    Kode Etik Jurnalistik

    Menurut saya, apapun subjek yang dibahas, penulisan sebuah berita haruslah tetap mengacu pada pedoman-pedoman yang ada. Nah, sekarang kita lihat contoh pemberitaan mengenai gadget di atas.

    Kalimat yang dicetak tebal itu berupa opini yang belum tentu benar atau belum tentu sesuai dengan fakta yang ada, sama seperti tulisan saya ini. Sedangkan kode etik jurnalistik menuntut kita untuk tidak mencampurkan antara fakta dengan opini.

    Kita blogger ini bukan jurnalis loh pak, tapi secara fungsi beberapa dari kita menjalankan fungsi sebagai jurnalis. Ketika kita menjalankan praktik jurnalistik tapi pada dasarnya kita bukan seorang jurnalis/wartawan, kita tidak mendapatkan perlindungan hukum sebagai wartawan atas tindakan pengambilan dan penyebarluasan konten tersebut. Ini juga yang menjadi kelemahan jurnalisme warga di Indonesia secara hukum.

    Jadi jelas risikonya di sini sangat besar. Sekarang jika kita bebas mencampurkan antara fakta dan opini dalam sebuah pemberitaan, potensi untuk menyinggung pihak lain akan sangat besar. Jadi, meskipun kita bukan seorang jurnalis, tapi kalau mau buat konten berita sebaiknya tetap mengikuti pedoman jurnalistik yang ada. Hanya itu bentuk perlindungan yang kita punya.

    Referensi: Masih berkaitan dengan jurnalisme warga.
    Jurnalisme Warga

    Sekarang saya coba jawab pertanyaan-pertanyaan pak Anton:
    1. Iya saya tahu
    2. Maksudnya jika menjadi seorang jurnalisme warga? Tidak ada kaidah jurnalistik yang dilanggar asalkan pemberitaan yang dibuat tetap berpedoman pada aturan yang ada, karena meskipun secara profesionalitas kerja mereka bukan seorang jurnalis tetapi mereka tetap menjalankan praktik jurnalistik.
    3. Saya tanya kembali, apakah media atau kantor berita boleh bersikap subjektif dalam sebuah pemberitaan?
    4. Makanya itu saya tanyakan kepada yang menulis, apakah tulisannya itu tidak akan dibaca oleh publik sehingga mengabaikan aturan penulisan berita yang ada?
    5. Pernah pak, saya tidak sedang membahas konten ulasan, seperti ulasan tempat wisata, otomotif dan barang konsumer. Di tulisan pertama dijelaskan bahwa konten ulasan tidak perlu mengikuti pedoman penulisan berita yang ada. Artinya si penulis dapat mengambil peran sebagai subjek utama yang bebas berpendapat, menilai, mengulas, mengeluarkan klaim dan lain sebagainya. Karena apa yang mereka sampaikan didasarkan pada apa yang mereka rasakan/alami.
    6. Saya tidak punya pengalaman jurnalistik pak, saya bisa memisahkan mana yang boleh dan mana yang tidak setelah saya membaca dan memahami pedoman-pedoman jurnalistik yang ada. Salah satunya tentang kode etik junalistik.
    7. Bisa disebutkan gaya seperti apa yang dimaksud? Apakah gaya penulisan/penyampaian boleh mengabaikan pedoman yang ada? Gaya penulisan itu perlu, sangat perlu, tapi ikut beropini dalam sebuah pemberitaan menurut saya keliru.

    Saya siap pak menerima cacian atau hinaan dari pihak lain atas tulisan saya ini. Karena dibalik itu, saya percaya bahwa apa yang saya sampaikan ini akan membawa manfaat bagi yang lain. Berbeda pandangan itu biasa. Intinya saya peduli dengan kondisi yang ada saat ini, kalau ada sesuatu yang menurut saya perlu diperbaiki, maka saya wajib menyampaikannya dalam bentuk opini. Ini tidak berarti saya selalu benar pak atau merasa paling benar. Tidak, tidak sama sekali 🙂

    Iya betul pak, mereka memang melakukannya di blog mereka sendiri tapi apa yang mereka tulis pastinya akan dibaca oleh masyarakat luas. Tidak ada bedanya antara tulisan ini ada di blog saya dengan di blog ini, keduanya sama2 tempat publik. Terima kasih untuk responnya pak Anton :), kita hidup memang harus saling mengoreksi.

    Terakhir, yang saya ingin tahu, kira-kira bagian mana dari tulisan pertama saya yang menurut bapak tidak tepat didasarkan pada pedoman jurnalistik?

  • #29740

    Anton
    Participant

    Mas…

    Terus terang saya tidak terbiasa dengan terlalu banyak basa basi. Bagi saya berdebat atau diskusi seperti arena pertarungan.

    Dalam arena pertarungan, saya akan banting atau tendang lawan saya sekeras mungkin. Kalau ia merasa sakit karena tendangan atau pukulan saya, itu resiko yang harus dia tanggung. Begitu juga saya, kalau saya ditendang atau dibanting, itu resiko saya.

    Hanya selepas dari arena bertarung, maka saya akan kembali normal. Tidak ada hubungan dengan rasa sakit hati atau benci.

    Begitulah saya memandang sebuah forum diskusi. Tempat pukul-pukulan dan banting-bantingan. Semakin keras semakin bagus. Benjut atau “berdarah-darah” karena bertanding adalah wajar.

    Itu stance/ posisi yang selalu saya pakai, walau terkadang saya masih terlalu halus kalau di Juragan Cipir, karena nggak enak sama yang punya arena bertanding. Kalau dulu di detik forum, saya lebih keras dan ganas kalau sedang diskusi.

    Saya mulai saja yah. Mungkin akan dipisah dalam beberapa bagian

    MEMVONIS

    Lihat bagian-bagian ini :

    Oh maaf, tulisan yang Anda buat bukan hanya untuk konsumsi pribadi kan? Tulisan Anda berupa konten berita dan disebarkan untuk dikonsumsi oleh publik kan? Jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka, Anda harus mengikuti aturan yang ada.

    Saya bukan menggurui, saya hanya mengingatkan dan mengajak kalian untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurut saya salah

    Seberapapun halusnya mas membuat tulisan, tetap saja keputusan akhir Anda adalah apa yang dilakukan oleh banyak blogger gadget tersebut adalah “SALAH”.

    Bukan begitu?

    Anda adalah hakim yang sudah menjatuhkan vonis. Jujur saja, Anda tidak mengajak diskusi sebenarnya. Tulisan Mas justru secara sederhana mengatakan Anda salah, saya benar.

    Tidak terbuka ruang untuk diskusi. Bagaimana mau diskusi lha ya wong sudah diputuskan “bersalah”.

    Secara pribadi, ini bukan pertama kali saya membaca tulisan mas. Kalau tidak salah di blognya mas Gee Jhon, Anda juga cukup aktif menulis dan kebetulan cukup banyak sudah yang saya baca.

    Kesimpulan saya sih, pakai istilah saya sendiri “Sindrom Blogger Tutorial”. Kecenderungannya adalah gaya para blogger tutorial adalah “cara saya yang paling benr”, cara lain salah. Kalau tidak ikut cara saya, berarti salah. Hanya ada satu cara melakukannya, cara saya.

    Kebiasaannya adalah penempatan posisi sang penulis sebagai guru dan yang membaca sebagai murid. Walau mengakui bukan menggurui, tetapi seorang yang mengingatkan berarti orang itu merasa dirinya lebih tahu dan paham dibandingkan yang membaca yang sebenarnya tidak beda dengan posisi sebagai guru atau orang yang lebih tahu.

    Itu yang biasa saya temukan dalam banyak tulisan blogger tutorial. Oleh karena itu saya sebut dengan Sindrom Blogger Tutorial. Benang merahnya sama.

    Tulisan mas Anggri di atas pun bernada sama.

    Vonis sudah jatuh. Salah, kalau elu mau ikutin cara lu sih terserah, tetapi sebenarnya salah (karena bukan pake cara gue).

    Intinya begitu.

    Itulah mengapa saya sebut tulisan yang memvonis. Karena putusan itu sudah ada disana, dikemas dalam bahasa yang halus, tetapi tetap saja memvonis. SALAH.

    Pertanyaan yang saya ajukan

    1. Apakah mas tahu tentang citizen journalisme atau jurnalisme warga? Jawabnya Iya saya tahu dan ngasih link.

    Rupanya Anda tidak menangkap maksuda dari pertanyaan tersebut. Disini sebenarnya saya berharap Anda menjawab dengan beberapa hal dan bukan sekedar “saya tahu”. Mungkin Anda pernah membacanya, tetapi jujur saja sepertinya Anda tidak mengerti

    Di dunia sekarang ada perdebatan panjang mengenai istilah Journalism alias jurnalistik. Perdebatannya lahir karena hadirnya yang namanya citizen journalism (CJ). Mengapa bisa demikian karena hal itu menggoyang pemikiran lama yang diwakili oleh istilah satunya profesional journalism (PJ), seperti Kompas, Pos Kota, Media Indonesia, Metro TV (Media massa).

    Kedua istilah sebenarnya sama, yaitu mengenai pengumpulan informasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat.

    Perbedaannya :

    PJ biaanya dijalankan di bawah aturan dan mekanisme yang ketat. Bahkan ada UU Pers dan berbagai kode etik atau kaidah jurnalistik yang dibuat untuk “memastikan” berita yang disampaikan ke masyarakat berada di sisi “obyektif” secara umum. Tidak berpihak.

    CJ justru berkebalikan. Karena hadir dari masyarakat sipil dan biasanya dikelola secara individu tidak memiliki mekanisme. Oleh akrena itu masyarakat akan menganggap CJ selalu subyektif dan memang ,mau tidak mau, akan selalu begitu. Apalagi mayoritas melakukan CJ tidak mengalami pelatihan jurnalistik, boro-boro sekolah jurnalistik.

    Facebook, Twitter, Blog adalah bentuk dari citizen Journalism (CJ).

    Nah, pernahkah Anda memikirkan mengapa Buni Yani dijadikan tersangka dengan memakai UU ITE dan bukan UU Pers? Masalahnya karena Buni Yani bukanlah insan pers secara hukum, apa yang disampaikannya adalah bentuk pernyataan pendapat dan tidak terikat oleh UU Pers. Ia terikat dengan UU ITE dan Konstitusi tentang kebebasan menyatakan pendapat (melalui internet)

    Dari sini seharusnya mas bisa melihat bahwa PJ dan CJ adalah dua entitas yang berbeda. Keduanya berada di bawah dua payung hukum yang berbeda pula.

    Kaidah dan aturan yang berada di dunia jurnalistik, seperti Kode Etik Jurnalistik, UU Pers tidak bisa menjangkau ke CJ. Kaidah Jurnalistik terbatas pada profesi yang secara resmi terkait langsung dengan kegiatan jurnalistik atau penyebaran informasi tadi.

    Sifat UU Pers mirip dengan UU Kedokteran (profesi), ruang lingkupnya “sempit”. UU Kedokteran sulit menjangkau profesi seperti Mantri, Tukang Gigi, Dukun Beranak. Kira-kira analoginya segitu mas.

    Bisa lihat bedanya. Secara hukum sendiri Jurnalisme Warga/Citizen Journalism akan terlepas dari jangkauan berbagai kaidah dan mekanisme jurnalistik pro.

    Itulah mengapa para jurnalis pro seperti wartawan terkadang menyebut CJ sebagai bukan jurnalisme. Karena mereka tidak melalui mekanisme yang resmi dan diikuti oleh para jurnalistik. Terkadang istilah Citizen Journalism disebut pula dengan Pseudo Journalism, alias Jurnaisme Imitasi.

    AKHIR BAGIAN I : Karena panjang uraiannya, saya tutup dulu disini. Bagian II akan menyusul sepulang saya kerja ya…..

    • Balasan ini diubah 1 bulan, 3 minggu yang lalu oleh  Anton.
    • Balasan ini diubah 1 bulan, 3 minggu yang lalu oleh  Anton.
  • #29743

    Pak Anton, kesalahan saya adalah langsung mengatakan yang itu salah dan yang ini benar padahal saya sendiri meyakini bahwa apa yg sampaikan di atas belum tentu benar. Inti yang saya tangkap adalah tidak semua tulisan harus berpedoman pada aturan yang dianut oleh para jurnalistik, tergantung dari siapa yang menulis dan memberitakan.

    Sebelumnya yang saya pikir, karena kita ikut menjalankan praktik jurnalistik maka kita pun harus mengikuti pedoman jurnalistik yang ada. Karena gak sedikit dari kita yang ikut membuat konten berita, termasuk saya.

    Menurut saya ini penting. Maksudnya gini, saya bukan seorang jurnalis, tapi saya ingin ikut membuat konten2 berita sebagai blogger, nah aturan mana yang harus saya ikuti? Karena klo aturan jurnalistik sendiri terikat pada profesi seperti yang pak Anton bilang.

    Di blog nya mas Gee Jhon itu klo gak salah saya cuma ikut bertanya di kolom komentar tentang AdSense, jadi gak terlalu aktif juga di sana.

  • #29777
    faiz pertamax
    faiz pertamax
    Participant

    kl sy sih yg penting tdk lebay & tdk menyebarkan berita hoax. penilaian sy sendiri saat ini publisher memang dituntut kejar trafik. jangankan blogger gurem kek kita, situs2 berita nasional aja skrg britanya dah amburadul kok, liat aja brita2 yg memanfaatkan viral sosmed. jarang bgt dr mereka yg nyantumin link eksternal sumber berita/ sosmed scr langsung. venomena apa ini kl bukan utk kejar trafik. blm lg halaman yg dibagi per berita 1-2-3-4-5 😂 pdhl konten britnya jg gk banyak2 amat 😂

  • #29782

    Kang Nata
    Participant

    wah ini adalah rekor,,,,dimana tulisan di FOrum sangat panjang sekali…nanti saya akan coba baca dengan baik apa yang disampaikan diatas, sekarang saya mau pulang kerja dahulu,,,

  • #29809

    ahmad08
    Participant

    saya sedih… mau nulis panjang tapi selalu “GALAT: Balasan Anda tidak dapat diciptakan saat ini. ” 🙁

  • #29810

    ahmad08
    Participant

    Buat Agan TS, Boleh-boleh saja kalo penulis blogger menerapkan aturan kode etik jurnalistik, saya juga sedang belajar buat menerapkan aturan kode etik jurnalistik sesuai dengan apa yang sudah saya baca dalam buku Jurnalisme Dasar dari Kompas, di buku itu dijelaskan tentang sikap dan watak pewarta, termasuk menumbukan sikap Skeptis yang tujuannnya agar sebuah media dapat hidup.

    Tujuan saya menerapkan aturan kode etik jurnalistik di blog, nantinya pas saya mau melamar kerja ke suatu perusahaan media massa, blog tersebut bisa saya jadikan sebagai portofolio gitu gan. 🙂

    mengenai tread agan yang ini, semua balik lagi ke penulis berita itu sendiri. Apa maksud dan tujuan mereka membuat berita?

    Apakah mereka dibayar untuk mempromosikan suatu produk dalam berita, atau cuma sekedar buat strategi naikin trafik visitor dari SE ke blog mereka?

    Perlu ditanyakan langsung ke sipemilik blognya gans, coba deh agan kontak penulis blog berita gadget yang agan maksud.


Anda harus log masuk untuk membalas topik ini.