VPS Hosting MurahWebsite Ini Dalam Perlindungan Allah SWT

Arti Juragan Cipir Versi Bahasa dan Sastra

Postingan Pertama, salam mba Indri. Ijinkan saya ikut menulis di blog yang sungguh luar biasa ini. Terlepas dari maksud pemilik blog memberi nama Juragancipir, saya ingin mencoba menguraikannya dalam pandangan Bahasa dan Sastra, tentunya versi pemahaman saya. Mohon ijinya mba indri..hehe

definisi-juragan-cipir

Juragancipir, tersusun dari dua buah kata yaitu juragan dan cipir. Nah dua kata tersebut yang akhirnya menjadi branding blog ini. Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang, jika ingin terkenal maka ciptakanlah branding. Mari bersama-sama kita coba bayangkan, jika tidak ada blog juragancipir, apakah nama juragan cipir akan seterkenal dan familiar seperti sekarang?. Tentunya tidak.

Saya akan pisahkan kata juragancipir menjadi dua buah suku kata, juragan dan cipir. Mari kita gali dua kata tersebut, apa artinya, sehingga kita mempunyai gambaran untuk memprediksi maksud mba Indri menamainya Blog Juragancipir.

JURAGAN

Sejarah kata Juragan, dalam terminologi bahasa, kata juragan sebenarnya adalah kata ungkapan untuk menggambarkan seorang yang kaya, seorang yang terhormat. Awal mula Kata juragan muncul memang tidak diketahui, namun yang pasti, kata Juragan adalah hasil dialektika panjang dari masa kemasa dan dari zaman ke zaman. menurut prediksi penulis, kata juragan semakin banyak diucapkan di masa kolonial Belanda. Di mana pada masa itu, kolonialisme menciptakan batasan antara si kaya (juragan) dan si miskin. Kita bisa melihatnya pada novel yang dibuat pada era kolonial karya Pramudia Ananta Toer dengan judul “Bumi Manusia”. Kata Juragan menjadi kata ungkapan yang sering banyak di sebutkan.

Kata juragan berkembang menjadi sebutan seorang pembantu kepada majikanya. Lalu berkembang lagi menjadi sebutan untuk seorang teman yang menghormati teman lain dengan menyapa juragan. Esensinya masih menitikberatkan pada makna meninggikan.

Dalam dunia sastra, kata juragan menjadi kata ungkapan yang terkadang tidak mengartikan arti sebenarnya. Kata juragan memperkaya bahasa, dan dampaknya akan memperbanyak khasanah sastra di Indonesia. Dalam bahasa sastra kata juragan sering di ungkapkan sebagai kata sindiran, sebagai kata khiasan. Sebagai contohnya dalam puisi” Juragan Wanita” yang memiliki arti negatif berupa seorang yang memperdagangkan wanita atau mucikari. Hehe…

Secara umum kata juragan menggambarkan hal hal yang luhur dan positif. Jika menyapa dengan kata juragan berarti kita menghormati dan meluhurkan orang yang kita sapa. Ada istilah, nama menggambarkan karakter, nama adalah doa, nama adalah cita-cita luhur yang akan dicapai di masa depan.

Kurang lebih itu gambaran singkat tentang kata Juragan, sekarang kita masuk pada kata yang ke dua yaitu kata cipir.

CIPIR

Ada yang tahu arti cipir?. Ya, cipir adalah sejenis biji polong-polongan. Kata cipir adalah kata asli Indonesia untuk menyebutkan tanaman polong-polongan. Tanaman kecipir, ketopes adalah jenis tanaman polong-polongan yang banyak dijumpai. Bisa digunakan sebagai sayur waktu masih muda, dan rasanya oenak tenan. Kecipir adalah tanaman yang merambat, biasanya dikembangkan oleh para petani sayur-sayuran.

Sebelum kita masuk pada arti menurut bahasa, saya ingin sedikit bercerita. Perlu pembaca tahu, tanaman cipir adalah tanaman yang mempunyai jasa besar dalam teknologi hibridisasi, terutama di bidang biologi dan pertanian. Kecipir ( Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C). Ilmuan Mendel pada tahun 1900 melalui percobaanya dengan tanaman polong, mampu mereformasi ilmu pengetahuan masa kini dengan hukum persilangan Mendelnya yang terkenal. Tanaman cipirlah yang berjasa pada Mendel menemukan hukum persilangan dan menjadi acuan ilmu genetika dan teknologi pertanian saat ini.

Menurut bahasa, kata cipir adalah kata benda yang menyusun kata tanaman kecipir. Yaitu tanaman merambat dengan buah jenis polong-polongan. Dalam bahasa indonesia Kecipir di ambil dari penamaan lokal didaerah Jawa Indonesia. Jika kita kedaerah lain, nama kecipir bisa saja berbeda. Sebagai contohnya kacang belingbing (Sumatra), Jaat (sunda), kelongkang (bali), kecipir (Jawa). Dan masih banyak lagi nama kecipir lokal lain di Indonesia.

Dalam sastra, cipir selalu diidentikan dengan tanaman yang luhur, sebagai contohnya, “kau seperti bunga kecipir yang Mekar tiada henti”. Kalimat khiasan yang menandakan bahwa tanaman kecipir sudah menjadi tanaman yang dianggap memiliki jasa tak terhingga dan dengan keindahan yang dimiliki.

Lalu bagaimana dengan Juragancipir?.hehe.

Setelah kita mengulas tentang dua kata penyusunnya, silahkan untuk mengartikan filosofi terdalam arti kata Juragancipir. Saya percaya, juragancipir tidak semata-mata diartikan apa-adanya. Ada arti filosofi dibaliknya. Saya tidak berani mengartikan secara bebas, tapi paling tidak saya mencoba mengejawantahkan sedikit terminologinya gambaran arti di balik kata Juragancipir, untuk pengartian yang sebenarnya dan benar tentu sang pemilik bloglah yang berhak menjawab.

Terimakasih saya ucapkan, terutama kepada Mba Indri, yang berkenan mempulikasikan tulisan saya. Semoga juragancipir terus maju dan sukses, dan selalu menginspirasi kita melalui tulisan-tulisanya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah perbendaharaan ilmu kita.

Jika ingin berkenalan berbagi ilmu dengan saya silahkan kunjungi website saya.

11 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.